![]() |
| Dua gunungan apem dipersiapkan untuk acara Safaran Yaqowiyu yang sudah menjadi budaya turun temurun yang dimulai oleh Ki Ageng Gribig 387 tahun silam (Foto Sumanto) |
Usai mendapatkan wangsit dari neneknya, yaitu Sunan Giri, berangkatklah Wasibagno ke arah barat. Sesampainya dihutan Merbabu di lereng Gunung Merapi, ia memutuskan mulai bertapa (semedi) dibawah bendungan Kali Bogowondo. Di situlah ia bertapa bertahun-tahun lamanya. Mendengar kejadian itu, Sunan Kalijaga dari Kadilangu Demak segera menemui Sunan Tembayat, yang juga disebut Sunan Pandanaran, untuk memberitahukan bahwa di bawah Kali Bogowondo ada seorang pertapa yang masih punya hubungan darah dengan Sunan Tembayat. Sunan Kalijaga meminta agar Sunan Tembayat mau menemui dan mengajarkan ilmu kebendaan, serta yang menyangkut ilmu serengat (syari'ah), hakikat dan ma'rifat.
Setelah jelas apa yang dikehendaki Sunan Kalijaga, berangkatlah Sunan Tembayat menemui Wasigbagno. Di tempat pertapaan itulah terjadi perdebatan antara Wasigbagno dengan Sunan Tembayat mengenai ilmu yng dimaksud Sunan Kalijaga. Wasigbagno merasa kalah, dan ia pun bersujud serta menyatakan diri untuk masuk Islam dan meminta segera diberi pelajaran tata cara bersembahyang.
Setelah mendapat pelajaran dari Sunan tembayat, Wasigbagno pun segera berangkat ke arah timur Kali Bogowondo. Ia berganti nama menajdi Ki Ageng Gribig, nama ayahnya. Di sebuah hutan jati, ia memutuskan mulai babat alas dan membangun masjid serta mendirikan padukuhan. Bertahun-tahun lamanya Ki Ageng Gribig babat alas sendiri. Kemudian, ia memperdalam ilmu yang didapatnya dari Sunan Tembayat. apa yang diinginkan akhirnya terwujud, Padukuhan yang dibangun mulai didatangi orang.
*ISTRI*
Konon, suatu saat menjelang salat dluhur, Ki Ageng Gribig membunyikan tabuh. Tanpa disangka, suara itu terdengar sampai ke Mataram yang saat itu sedang punya hajat wisudan (pelantikan) Sultan Agung. Sultan Agung, tertarik dan memerintahkan mencari asal suara untuk diajak ke Mataram. Kemudian, padukuhan yang dibangun Ki Ageng Gribig diberi hadiah sebagai tanah perdikan. Sebagai gantinya, Ki Ageng Gribig diwajibkan ikut hadir setiap peringatan hari kelahiran Sultan Agung di Mataram. Selain itu Ki Ageng Gribig juga diberi hadiah isteri, yang tidak lain Raden Ayu Emas, adik Sultan Agung sendiri.
Seperti biasanya, setiap bulan Ramadhan, anak cucu Ki Ageng Gribig, pada sore hari sudah memenuhi halaman masjid Jatinom untuk darusan (pengajian) dan dilanjutkan salat Tarawih. Pada suatu malam, saat salat tarawih akan dimulai, Ki Ageng Gribig belum juga datang. Konon, pada saat tertentu di malam Ramadhan, Ki Ageng Gribig menghadiri salat Tarawih di Mekah bersama Sultan Agung. Kendati begitu, jamaah masih taat menunggu. Sepulang dari Mekah, Ki Ageng Gribig menuju masjid di Jatinom guna memimpin salat Tarawih. Selesai Tarawih, Ki Ageng Gribig bermaksud membagi oleh-oleh dari Mekah berupa kue apem. namun kuenya cuma tiga buah, sementara anak cucunya banyak. Karena itu Ki Ageng Gribig meminta pada Nyi Ageng untuk membuatkan kue apem yang terbuat dari beras. Saat itulah Ki Ageng Gribig berpesan, agar tiap bulan Sapar menyisihkan harta bendanya untuk zakat syukuran. "Menurut kepercayaan, apem Yaqawiyu yang selesai disalatkan dan dibagikan itu dapat mendatangkan rezeki," ujar Sugeng Haryanto. (Sumanto SP)

.jpg)
0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !