![]() |
| Ratusan pengunjung Safaran Yoqowiyu berebut apem yang dinilai bertuah (Foto : Sumanto) |
Hampir bisa dipastikan, berebut kue apem merupakan adegan menarik yang selalu dijumpai tiap bulan Safar di Kecamatan Jatinom. Upacara tradisonal penuh ritual yang sudah berlangsung ratusan tahun silam itu lama-kelamaan menjadi obyek wisata andalan di wilayah Kabupaten Klaten. Meski berbagai serangan hama tanaman pertanian utamanya tikus yang hingga kini masih dirasakan para petani, bukan berarti membuat perayaan Safaran Yaqawiyu surut. Upacara Safaran tahun ini tetap berlangsung semarak.
Tradisi Yaqawiyu merupakan perpaduan antara peninggalan Ki Ageng Gribig, sekaligus sebagai upacara syukuran kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan juga peringatan untuk memohon keselamatan. Peringatan Safaran Yaqawiyu juga merupakan peringatan kelahiran Ki Ageng Gribig, yang dilahirkan pada bulan Safar 1322. Keramaian itu ditandai dengan penyebaran kue apem (kue yang dibuat dari bahan baku beras).
Konon menurut kepercayaan siapa yang berhasil memperoleh kue apem yang disebarkan, orang tersebut akan mendapatkan tuah atau berkah, yang akhirnya bisa membuat hidupnya bahagia. Sebagai misal tanahnya subur, usahanya lancar, tanaman tidak teserang hama, berhasil panen melimpah.
Atas dasar kepercayaan tersebut, para pengunjung sehabis salat Jumat setiap Safar berlomba berebut kue apem yang dilemparkan panitia. Tidak jarang mereka berebut sampai berakibat mengorbankan harta benda. Bahkan ada yang saling menginjak, desak-desakan untuk berjuang memperoleh kue apem. "Kadang, meski kotor pun tidak masalah, yang penting mendapatkan apem Yaqawiyu," ungkap beberapa pengunjung.
Sebelum puncak upacara sebar apem dimulai, sehari sebelumnya berlangsung kirab apem, yang disemayamkan di Masdjid Agung peninggalan Ki Ageng Gribig. Kemudian dilangsungkan pula pengajian malam harinya. Penyebaran apem dimulai setelah berlangsung salat Jumat seperti yang direncanakan. Malam sebelumnya, Desa Jatinom sudah mulai dibanjiri pengunjung, dan hampir seluruh jalan kampung dipadati pengunjung yang hendak (ngalap berkah) dengan berebut kue apem tersebut.
Sebar apem kali pertama diawali oleh Bupati Klaten Sunarno SE MHum, disusul oleh beberapa pejabat Muspida setempat dari panggung kehormatan, kemudian dilanjutkan oleh panitia dari panggung tempat penyimpanan apem. Untuk mendapatkan kue apem yang diyakini bertuah, tak jarang jala ikan, ayakan dan alat lain dijadikan alat oleh pengunjung untuk menjaring apem yang disebar dari panggung setinggi tujuh meter.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Klaten, Sugeng Haryanto, melimpahnya pengunjung mengakibatkan acara yang pada awalnya digelar Ki Ageng Gribig di halaman Masdjid Agung, kemudian dipindahkan ke arah selatan Masjid atau tepatnya di Lapangan Plampeyan dekat Sendang Plampeyan.
Berpindahnya lokasi penyebaran apem yang terjadi sekitar tahun 1990 itu, mendorong Pemkab Klaten melengkapi prasarana untuk penyebaran apem. Dengan mendirikan beberapa buah menara setinggi 10 meter dengan tiang penyangga beton bertulang. Sementara perayaan tradisi Safaran di Jatinom juga menyokong pemasukan pendapatan daerah.
Konon, acara Safaran Yaqawiyu itu sendiri telah dimulai sejak 387 tahun yang silam. Hal itu bermula ketika salah seorang tokoh penyebaran agama Islam bernama Syech Wasibagno yang nama kecilnya Ki Ageng Gribig, lantas dikenal di Jatinom, berziarah ke Tanah Suci. Sepulangnya dari Tanah Suci, 15 Safar 1616 hijriah, hari Jumat, membawa buah tangan berupa tiga buah kue apem.
Setelah selesai berjamaah solat jumat, apem (menul-menul) yang masih hangat ingin dibagi-bagikan kepada hadirin. Karena diperkirakan tidak cukup, maka disuruhlah para abdinya membuat jladren (adonan) apem. Kemudian ketiga apem dari Mekah tadi dicampur/diramu dengan jladren tadi.
Begitu apem disebarkan/dibagi-bagikan para jamaah, anak cucu, di sekitarnya. Kebiasaan membagikan apem yang dilakukan Ki Ageng Gribig itu dianut oleh anak cucunya setiap 15 Safar dan berlangsung hingga sekarang. Sedangkan apem itu sebenarnya sebagian dari wujudan ajaran Ki Ageng Gribig terhadap anak cucu dan mayarakat sekelilingnya, agar selalu dan banyak memohon ampunan kepada Allah SWT.
Kata apem berasal dari Afunan-Affawa (selalu mohon ampun). Sedangkan Yaqawiyu berasal dari doa Ki ageng Gribig yang berbunyi "Ya qowiyu yaa Aziz qowina wal muslimin, yaa qowiyu ya Roozzag warzuqna wal muslimin," yang artinya, ya Tuhan Yang Maha Kuat Perkasa, limpahkanlah kekuatan kepada kita segenap kaum muslimin. Ya Allah yang Maha Kuat dan Maha Pemberi Rezeki, berikanlah rezeki kepada kita kaum muslimin. dari doa itulah akhirnya masyarakat menamakan upacara Yaqawiyu atau orang Jawa menyebutnya yaqowiyu, yang maksudnya njongko wahyu (mencari wahyu). Oleh Ki Ageng Gribig doa itu selalu diwiridkan terutama pada saat mengakhiri pengajian, sekembalinya dari Tanah Suci.
Karena itu hingga sekarang ini, pada setiap akan dimulainya penyebaran apem, mesti diawali dengan perkataan "Yaqawiyu", dan seterusnya. maka apem pun segera 'melayang' (disebar) ke segala arah, menghampiri pengunjung yang berjejal. Ki Ageng Gribig konon tidak pernah membayangkan bahwa langkah awal pemberian buah tangan berupa kue apem kepada sanak keluarganya sepulang dari tanah Suci itu justru membawa berkah, terutama bagi masyarakat wilayah Jatinom khususnya, dan wilayah Kabupaten Klaten umumnya.
Pemberian kue apem pada bulan Safar, ratusan tahun silam itu, sekarang ini mampu menjadi sumber pendapatan daerah. Peristiwanya bukan lagi sekadar tradisi, melainkan telah menjadi paket wisata daerah bagi Pemkab Klaten. (Sumanto SP).

.jpg)
0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !