![]() |
| Areal tanamamn kedelai pada musim tanam lalu (Sumanto) |
Sementara, pembelanjaan barang-barang saprodi dilakukan oleh Petugas Penyuluh Lapangan setempat Darno. "Tidak hanya itu, program SLPTT tersebut terjadi penggelembungan areal. Sehingga, dana yang mestinya diterima 44
kelompk tani, kenyataan di lapangan hanya 19 kelompok tani yang menerima. Dengan demikian terjadi penyimpangan sekitar Rp 98,2 juta yang dipertanyakan kelompok tani," ungkap Ngadimin, seorang anggota kelompok tani di Trucuk.
Ketua Lemabga Studi Peranian Informatif dan Evaluasi (LSPIE) Klaten, Drs Sumanto mengungkapkan, temuan dugaan penyimpangan itu berawal ketika anggota lembaganya melakukan penelitian terkait tanaman palawija di wilayah Kecamatan Trucuk, Klaten. Dari puluhan anggota kelompok tani di wilayah setempat, terungkap jika program SLPTT Palawija, pelaksanaannya tidak sesuai dengan platfon. Namun, anggota kelompok tani tak berdaya, karena seusai mengambil dana dari bank yang didampingi PPL, setelah cair diminta oleh PPL Darno, dan yang diterimakan kepada Kelompok Tani sejumlah Rp 1.400.000 setiap unit untuk biaya pertemuan 10 kali.
Sementara sisanya sebesar Rp 2.530.000/unit dibawa oleh PPL, untuk dikelolanya. Selanjutnya, oknum PPL tersebut, tanpa sepengetahuan kelompok tani, dia membelanjakan barang-barang saprodi. Ironisnya, pengadaan saprodi itu, tak sesuai dengan kebutuhan dan harga barang yang menentukan PPL tersebut.
Sebagai misal, pengadaan papan nama mestinya seharga Rp 150.000/unit kelompk hanya diberi papan nama dari plastik paling seharga Rp 25.000/unit. Pengadaan Pestisida/Herbisida Rp 500.000/unit, kelompok tani hanya diberi 2
botol Fury 50 EC setengah literan/unit dengan harga paling tinggi Rp 45.000/botol berarti dari jumlah 44 unit, karena di lapangan hanya 19 unit, sehingga terjadi penyimpangan oleh PPL sebesar Rp 100.000 X 44 unit.
Tak hanya itu, PPl juga tidak berbelanja di Toko, namun pihak toko Prima Agro hanya dimintai kuitanasi kosong. "Yang jelas program SLPTT Palawijo di wilayah Trucuk, hanya direkayasa oleh PPL Darno, karena dalam prakteknya
sama sekali tidak dilakukan kegiatan pertemuan oleh kelompok tani," ungkap anggota kelompok tani tersebut.
Sementara itu, PPL Trucuk Darno ketika dihubingi melalui selulernya, saat dikonfirmasi terkait kasus program SLPTT yang diduga menyimpang. Dia tidak mengelak kalau ada kelompok tani yang tidak melaksanakan program tersebut sesuai plafon. Namun, saat ditanya soal penggelembungan areal, dan dana yang dikelolanya, dia tak menjelaskan secara jelas. "Silahkan ke kantor saja, saya pertemukan dengan kelompok tani," kilah Darno. (Anto)


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !