![]() |
| Petani di Kecamatan Mojolaban sedang melakukan gropyokan hama tikus (Foto : Sutarmin DS) |
Dipertan Sukoharjo Siapkan Bantuan Gratis Obat Emposan
SOLO - INDEPNEWS.Com : Malang nian nasib para petani di Kabpaten Sukoharjo. Belum selesai perang melawan hama wereng dan keong mas, kini muncul serangan hama tikus. Paling tidak, serangan hama tikus mengancam tanaman padi di 5 kecamatan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, serangan hama tikus mencanam tanaman padi seluas 564 hektare di lima kecamatan dari 12 kecamatan. Pada musim tanam (MT) I, hama tikus menyerang di kecamatan Mojolaban, Polokarto, Bendosari, Weru dan Grogol.
Kepala Dinas Pertanian (Dipertan) Kabupaten Sukoharjo, ketika dihubungi di ruang kerjanya, Selasa (22/1) membenarkan, adanya serangan hama tikus. Meski demikian, serangan hama tikus masih wajar dan tidak membahayakan terhadap produksi petanian. Sebagai antisipasi, Dipertan menyiapkan bantuan obat emposan pembasmi tikus, diberikan gratis kepada petani yang tanaman padinya diserang tikus.
“Hama tikus memang menyerang tanaman padi usia satu bulan hingga dua bulan. Menghilangkan Organisme Penganggu Tanaman (OPT) tikus tidak bisa dilakukan selama masih ada perkembangbiakan. Cara yang mudah dan membuahkan hasil adalah lewat gropyokan,” paparnya.
Terkait dengan gropyokan, Giyarti menyatakan, petugas lapangan akan melakukan sosialisasi agar tikus yang telah diambil tidak dibuang ke jalan raya atau jalan kampung. Menurutnya, jika bangkai tikus menyebar akan merugikan petani karena bisa terkena penyakit pes.
“Jika petani mau, tikus-tikus itu bisa dijual untuk campuran pakan ternak. Jangan dibuang di jalan kampung. Lebih baik dikubur atau dibenam. Sayangnya, Dipertan tidak mempunyai anggaran untuk membeli tikus-tikus hasil tangkapan petani.
Guna mengatasi hama tikus, Dipertan telah menyiapkan obat emposan. Obat itu dibagikan secara gratis kepada petani yang membutuhkan. Bagi petani yang membutuhkan, bisa meminta ke UPTD atau lewat kelompok tani, jelasnya.
Lebih lanjut dijelaskannya, agar tak salah sasaran pihaknya hanya melayani petani yang tanaman padinya terserang OPT tikus. Obat emposan sudah tersedia di dinas dan UPTD-UPTD di kecamatan, jumlahnya sekitar 150 karung. Petani bisa meminta untuk melakukan gerakan gropyokan, jelasnya.(Sutarmin DS)
Berdasarkan pantauan di lapangan, serangan hama tikus mencanam tanaman padi seluas 564 hektare di lima kecamatan dari 12 kecamatan. Pada musim tanam (MT) I, hama tikus menyerang di kecamatan Mojolaban, Polokarto, Bendosari, Weru dan Grogol.
Kepala Dinas Pertanian (Dipertan) Kabupaten Sukoharjo, ketika dihubungi di ruang kerjanya, Selasa (22/1) membenarkan, adanya serangan hama tikus. Meski demikian, serangan hama tikus masih wajar dan tidak membahayakan terhadap produksi petanian. Sebagai antisipasi, Dipertan menyiapkan bantuan obat emposan pembasmi tikus, diberikan gratis kepada petani yang tanaman padinya diserang tikus.
“Hama tikus memang menyerang tanaman padi usia satu bulan hingga dua bulan. Menghilangkan Organisme Penganggu Tanaman (OPT) tikus tidak bisa dilakukan selama masih ada perkembangbiakan. Cara yang mudah dan membuahkan hasil adalah lewat gropyokan,” paparnya.
Terkait dengan gropyokan, Giyarti menyatakan, petugas lapangan akan melakukan sosialisasi agar tikus yang telah diambil tidak dibuang ke jalan raya atau jalan kampung. Menurutnya, jika bangkai tikus menyebar akan merugikan petani karena bisa terkena penyakit pes.
“Jika petani mau, tikus-tikus itu bisa dijual untuk campuran pakan ternak. Jangan dibuang di jalan kampung. Lebih baik dikubur atau dibenam. Sayangnya, Dipertan tidak mempunyai anggaran untuk membeli tikus-tikus hasil tangkapan petani.
Guna mengatasi hama tikus, Dipertan telah menyiapkan obat emposan. Obat itu dibagikan secara gratis kepada petani yang membutuhkan. Bagi petani yang membutuhkan, bisa meminta ke UPTD atau lewat kelompok tani, jelasnya.
Lebih lanjut dijelaskannya, agar tak salah sasaran pihaknya hanya melayani petani yang tanaman padinya terserang OPT tikus. Obat emposan sudah tersedia di dinas dan UPTD-UPTD di kecamatan, jumlahnya sekitar 150 karung. Petani bisa meminta untuk melakukan gerakan gropyokan, jelasnya.(Sutarmin DS)


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !