![]() |
| SMA Negeri I Sumenep |
Kepala SMAN 1 Sumenep, Drs. Moh. Sadik, M.Pd kepada sejumlah wartawan di kantornya, Rabu (09/01) mengungkapkan, sebenarnya dengan penghapusan RSBI dan SBI oleh MK, tidak akan berpengaruh pada pelaksanaan pendidikan di lembaganya.
Sebab, selama ini yang menjadi argumentasi di MK, dengan pelaksanaan pendidikan di lembaga RSBI dan SBI di kota-kota besar yang sudah tidak menerapkan muatan lokal dan biaya tinggi. Bahkan, hanya anak orang-orang tertetu dan kaya yang bisa bersekolah disana.
“Sementara itu tidak berlaku di sekolah kami yang tetap mengembangkan budaya lokal, seperti pelajaran bahasa Madura serta pengembangan budaya Madura serta tetap memperhatikan kearifan lokal lainnya,” ujarnya.
Hanya saja, karena itu merupakan kebijakan secara nasional, pihaknya tetap menunggu surat keputusan dari atas, bagaimana penerapan pengelolaan dan manajemen yang akan dilaksanakan kedepan, jika memang RSBI dan SBI betul-betul harus dihilangkan.
Dijelaskan Sadik, dalam implikasinya yang dilaksanakan sekolahnya selama ini tetap memperhatikan kearifan lokal. Seperti halnya dengan tidak membedakan siswa kaya dan miskin yang memiliki kecerdasan bagus, tetap bisa masuk pada Penerimaan Siswa Baru (PSB) dan pada perjalananya siswa miskin tetap diberi keringanan dari berbagai biaya sekolah.
“RSBI-SBI bisa saja dihapus, namun siswa yang memiliki kecerdasan tetap harus diberi kesempatan mendapatkan pendidikan global tanpa harus menghilangkan budaya local,” tambahnya. (ren)


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !