![]() |
| Terlihat Hunian Sementara (Huntara) saat sebelum dibongkar (Foto : Sumanto SP) |
Keterangan yang dihimpun kemarin, pembongkaran Huntara itu, setelah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten melayangkan surat perintah pembongkaran Huntara ke Pemdes Kepurun pada pekan lalu. Pelaksanaan pembongkaran tersebut dilakukan oleh 11 kelompok yang terdiri dari 11 RW.
Setelah dibongkar, sisa bahan bangunan yang terbuat dari bambu diberikan ke desa. Sedangkan untuk bahan bangunan yang terbuat dari seng, batako, dan paving, akan diiventarisir terlebih dahulu dan menunggu perintah lanjut dari BPBD.
Kades Kepurun, Widodo menjelaskan, untuk bambunya, langsung diberikan ke tiap-tiap kelompok. Nantinya warga akan membeli ke kelompok tersebut dan uang hasil penjualannya masuk ke kas RW. Dikatakan, dalam pembongkaran tersebut, BPBD tidak menentukan batas waktu penyelesaian. Diperkirakan, pembongkaran tersebut baru akan selesai dalam dua bulan.
Menurutnya, setelah kelompok pertama selesai membongkar, baru bisa diperkirakan lamanya waktu pembongkaran. Untul perkiraan sementara, sekitar dua bulan.
Sementara itu, Camat Manisrenggo Wahyudi Martono mengaku senang dengan dibongkarnya Huntara tersebut. Karena, sudah dua tahun bangunan tersebut mangkrak karena ditinggalkan penghuninya.
“Sejak penghuninya pulang, bangunan-bangunan tersebut tak terurus. Bahkan banyak bagian dari bangunan hilang dicuri orang,” tambahnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Kondisi Huntara, yang berada di lapangan Desa Kepurun Kecamatan Manisrenggo Kabupaten Klaten setelah ditinggalkan para pengungsi korban erupsi merapi, sekarang ini memprihatinkan. Tidak saja bagian bangunan berupa atap seng dan daun pintu menjadi sasaran pencurian. Namun tempat tersebut sering digunakan tempat mesum dan pesta miras.
“Meski sudah sering diperingatkan pihak pemerintah desa setempat, namun lokasi Huntara tetap saja sebagai ajang pelajar yang membolos jam pelajaran sekolah,” ungkap Parjo (56) warga sekitar Huntara (Indepnewscom, 2/2).
Sebenarnya, lanjut Paijo, tak hanya mpemerintah desa, namun warga sering mengingatkan, tetapi mereka tidak pernah menggubrisnya. Bahkan, kini mereka semakin berani dan tidak memperdulikan orang lain. Mereka berbuat mesum diatas motor atau masuk ke dalam huntara untuk melakukan hubungan suami istri. Bahkan, tidak hanya pelajar, dia juga pernah melihat pasangan paruh baya melakukan hubungan suami istri hanya dengan beralaskan jas hujan. (Anto)


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !