![]() |
| Kondisi pengungsi Syiah Sampang (PN-o250) |
"Saya anggap pemindahan atau relokasi karena dipaksa, seakan-akan disisihkan sebagai warga negara Indonesia (WNI). Itu bertentangan dengan HAM, karena warga Syiah mendapat tekanan tertentu untuk pindah ke rumah susun (rusun). Jauh berbeda dengan warga negara yang lain yang memiliki hak," kata Albert kepada wartawan, Selasa (23/7).
Albert mengunjungi lokasi pengungsian komunitas Syiah Sampang dari GOR Sampang menuju rumah susun Pasar Induk Agrobis Jemundo, Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin (22/7). Dalam kunjungan itu, ia mendapati kenyataan telah terjadi pelanggaran HAM karena pemaksaan yang diduga dilakukan oleh aparat setempat.
"Warga masih menolak relokasi dari GOR Sampang ke rusun Sidoarjo. Mereka mengatakan relokasi itu terjadi dengan paksa, tidak ada yang sukarela. Walaupun relokasi di rusun yang agak lebih baik (dari kondisi di GOR Sampang), mereka tetap tidak bersedia," papar Albert lagi.
Dalam kunjungan itu, Albert pun menerima aspirasi dari sejumlah pengungsi. Mereka rata-rata menolak semua opsi dari pemerintah untuk merelokasi, karena itu ia berharap para pengungsi dapat kembali ke kampung halaman mereka. "Semua opsi relokasi pemerintah mereka tolak. Mereka hanya ingin kembali ke kampung halaman mereka yang terusir," jelas Albert.
Adapun, warga Syiah Sampang itu berharap sebelum Idul Fitri dapat kembali ke kampung halaman. Albert pun berharap keinginan itu dapat dipenuhi. "Semua warga Syiah tetap ingin pulang sebelum lebaran. Harta benda mereka, tanah, walaupun telah rusak, ada di sana. Saya harap ada jaminan keamanan mereka saat mereka kembali ke kampung halaman," sahut Albert.
Albert mengapresiasi langkah Rektor IAIN Sunan Ampel Prof Dr Abd A'la. Menurutnya rektor tersebut sudah membawa perubahan berupa pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi dan kedamaian.
"Rektor IAIN Sunan Ampel telah bertindak sebagai negosiator untuk perdamaian warga yang bertikai. Rektor sudah berhasil memasukkan ketentuan untuk mencapai kedamaian, meski belum tercapai rekonsiliasi. Karena perdamaian sesungguhnya itu bila kembali ke kampung halaman mereka," kata Albert.
Sebelumnya, Menko Polhukam Djoko Suyanto usai rapat terbatas di Kantor Presiden terkait masalah Syiah Sampang menyebut ada dua opsi penanganan warga Syiah Sampang. Pertama, kembali ke kampung halaman mereka meski ada resistensi, kedua membuat daerah baru di sekitar Madura sebagai lokasi baru mereka. (PN-o250)


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !