![]() |
| Terlihat Atap dan bagian pintu Huntara raib dicuri (Foto : Sumanto) |
KLATEN - INDEPNEW.Com ; Kondisi Huntara, yang berada di lapangan Desa Kepurun Kecamatan Manisrenggo Kabupaten Klaten setelah ditinggalkan para pengungsi korban erupsi merapi, sekarang ini memprihatinkan. Tidak saja bagian bangunan berupa atap seng dan daun pintu menjadi sasaran pencurian. Namun tempat tersebut sering digunakan tempat mesum dan pesta miras.
“Meski sudah sering diperingatkan pihak pemerintah desa setempat, namun lokasi Huntara tetap saja sebagai ajang pelajar yang membolos jam pelajaran sekolah,” ungkap Parjo (56) warga sekitar Huntara, Jumat (1/2).
Sebenarnya, lanjut Paijo, tak hanya pemerintah desa, namun warga sering mengingatkan, tetapi mereka tidak pernah menggubrisnya. Bahkan, kini mereka semakin berani dan tidak memperdulikan orang lain. Mereka berbuat mesum diatas motor atau masuk ke dalam huntara untuk melakukan hubungan suami istri. Bahkan, tidak hanya pelajar, dia juga pernah melihat pasangan paruh baya melakukan hubungan suami istri hanya dengan beralaskan jas hujan.
Menurutnya, sejak ditinggalkan para penghuni korban erupsi merapi, bagian bangunan terutama atap bangunan yang berupa seng dan daun pintu juga dicuri orang. Pencurian atap seng tersebut kadang dilakukan pada siang hari, entah pelakunya yang jelas bukan warga Desa setempat (Kepurun-red)," ungkap Paijo yang mengaku hampir setiap hari merumput dan mencari kayu bakar di sekitar lokasi Huntara setempat.
"Saya sering melihat sendiri, saat ada seorang warga yang menurunkan atap seng, dan melepas daun pintu Huntara tersebut," kata dia.
Sebelumnya, ungkapan serupa juga disampaikan oleh Kadus III Desa Kepurun, Ari Sudarmadi, pihaknya mengaku sering melihat segerombolan pemuda mabuk di tempat tersebut. Bahkan botol-botol minuman keras banyak yang ditinggalkan dalam kondisi sudah pecah.
Disebutkan, mereka merupakan warga dari daerah lain yang setiap saat berkumpul untuk mabuk-mabukan. Kondisi demikian membuat resah warga Desa Kepurun. Karena, perbuatan tersebut tidak kenal hari baik siang sore dan malam.
Sementara itu, Camat Manisrenggo Wahyudi tidak mengelak atas keluhan warga terkait Huntara yang berubah fungsi dan sebagian atap bangunan raib. Pihaknya, yang mengaku pernah melakukan pemeriksaan dengan membawa petugas keamanan. Namun, begitu pihaknya datang ke lokasi, mereka langsung pergi melarikan diri. Sebab, luasnya lokasi huntara membuat mereka leluasa meloloskan diri.
Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Sri Winoto SH mengakui bahwa Huntara sejak lama mangkrah. Dikatakan, untuk pembongkaran shelter tersebut masih menunggu persetujuan Bupati Klaten, Sunarno SE MHum. Sebab, bangunan huntara itu merupakan bangunan Pemprov Jateng sehingga tidak bisa langsung dibongkar begitu saja.
"Untuk pembongkaran bangunan Huntara itu dibutuhkan dana Rp 240 juta. Adapun anggaran sebesar itu, sudah diajukan namun masih menunggu instruksi bupati," Tandasnya. (Anto)
“Meski sudah sering diperingatkan pihak pemerintah desa setempat, namun lokasi Huntara tetap saja sebagai ajang pelajar yang membolos jam pelajaran sekolah,” ungkap Parjo (56) warga sekitar Huntara, Jumat (1/2).
Sebenarnya, lanjut Paijo, tak hanya pemerintah desa, namun warga sering mengingatkan, tetapi mereka tidak pernah menggubrisnya. Bahkan, kini mereka semakin berani dan tidak memperdulikan orang lain. Mereka berbuat mesum diatas motor atau masuk ke dalam huntara untuk melakukan hubungan suami istri. Bahkan, tidak hanya pelajar, dia juga pernah melihat pasangan paruh baya melakukan hubungan suami istri hanya dengan beralaskan jas hujan.
Menurutnya, sejak ditinggalkan para penghuni korban erupsi merapi, bagian bangunan terutama atap bangunan yang berupa seng dan daun pintu juga dicuri orang. Pencurian atap seng tersebut kadang dilakukan pada siang hari, entah pelakunya yang jelas bukan warga Desa setempat (Kepurun-red)," ungkap Paijo yang mengaku hampir setiap hari merumput dan mencari kayu bakar di sekitar lokasi Huntara setempat.
"Saya sering melihat sendiri, saat ada seorang warga yang menurunkan atap seng, dan melepas daun pintu Huntara tersebut," kata dia.
Sebelumnya, ungkapan serupa juga disampaikan oleh Kadus III Desa Kepurun, Ari Sudarmadi, pihaknya mengaku sering melihat segerombolan pemuda mabuk di tempat tersebut. Bahkan botol-botol minuman keras banyak yang ditinggalkan dalam kondisi sudah pecah.
Disebutkan, mereka merupakan warga dari daerah lain yang setiap saat berkumpul untuk mabuk-mabukan. Kondisi demikian membuat resah warga Desa Kepurun. Karena, perbuatan tersebut tidak kenal hari baik siang sore dan malam.
Sementara itu, Camat Manisrenggo Wahyudi tidak mengelak atas keluhan warga terkait Huntara yang berubah fungsi dan sebagian atap bangunan raib. Pihaknya, yang mengaku pernah melakukan pemeriksaan dengan membawa petugas keamanan. Namun, begitu pihaknya datang ke lokasi, mereka langsung pergi melarikan diri. Sebab, luasnya lokasi huntara membuat mereka leluasa meloloskan diri.
Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Sri Winoto SH mengakui bahwa Huntara sejak lama mangkrah. Dikatakan, untuk pembongkaran shelter tersebut masih menunggu persetujuan Bupati Klaten, Sunarno SE MHum. Sebab, bangunan huntara itu merupakan bangunan Pemprov Jateng sehingga tidak bisa langsung dibongkar begitu saja.
"Untuk pembongkaran bangunan Huntara itu dibutuhkan dana Rp 240 juta. Adapun anggaran sebesar itu, sudah diajukan namun masih menunggu instruksi bupati," Tandasnya. (Anto)


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !