Refleksi Tujuh Tahun Bencana Nasional Gempa Jateng - DIY INDEPNEWS.Com
Headlines News :
Home » , , » Refleksi Tujuh Tahun Bencana Nasional Gempa Jateng - DIY

Refleksi Tujuh Tahun Bencana Nasional Gempa Jateng - DIY

Ditulis Oleh redaksi Rabu, 22 Mei 2013 | 18.15

Terlihat gasing raksasa diangkat bersama-sama warga sebagai simbuk kebersamaan (Foto:Sumanto) 
Kreasi Seniman Gasing Raksasa Lupakan Gempa Bumi

KLATEN - INDEPNEWS.Com :
Gasing Raksasa berdiameter 2,2 meter yang berbahan kayu yang diputar para seniman dari komunitas Sanggar Lima Benua, pada acara refleksi tujuh tahun bencana gempa bumi Jateng-DIY di monumen Lindu Gede, Desa Sengon, Kecamatan Prambanan, Klaten, Rabu (22/5) membuat masyarakat dari semua usia ingin melihatnya dari dekat.

Gasing yang dikenal oleh masyarakat sebagai mainan anak-anak, yang cara kerjanya diputar dengan tali kemudian berputar menimbulkan suara, atas hasil kreasi para seniman dari komunitas Sanggar Lima Benua itu, untuk memutar dengan tambang diperlukan paling tidak 20 orang. Karena ukurannya jauh lebih besar dari biasanya.

Salah seorang pendamping Sanggar Lima Benua, Hari Pramono, filosofi gasing tersebut sangat baik karena dibutuhkan kerja sama.  Dikatakan, gasing hanyalah merepresentasi satu permainan tardisional. Sebelum tahun tujuh puluhan, di Jawa khusunya dan Indonesia pada umumnya, banyak permainan atau dolanan anak-anak. Banyak jenis dolanan anak, terdapat pesan moral. Karena di dalamnya mengutamakan kerja sama, gotong royong, satu rasa, dan bangkit bersama. Bukan aspek individual seperti pada mainan anak-anak di zaman modern.

Menurutnya, semangat kerja sama itu, penting untuk ditumbuhkan dalam memperingati tragedi gempa bumi, sehingga masyarakat kembali mampu membangun dirinya ke depan. Pada acara tersebut, hadir Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sri Winoto SH, dan Kepala Dinas Pendidikan Pemkab Klaten Drs Pantoro MM.

Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Pendidikan Pantoro mengatakan, bencana harus disikapi dengan bijak. Tak cukup diratapi namun harus disikapi dengan semangat dan kesiapsiagaan. Hal itu penting untuk terus menumbuhkan kesadaran antisipasi bencana.

Menurutnya, refleksi gempa bukan untuk mengingatkan kepedihan saat terjadi bencana, namun diharapkan menjadi media  mengingatkan pentingnya kesadaran untuk selalu siap siaga menghadapi bencana dan pasca bencana bangkit dengan cepat. Terlebih Klaten merupakan wilayah rawan dan sudah terjadi bencana beberapa kali.

Sementara itu, staf khusus Menteri Pendidikan Nasional, Sri Lestari menyatakan, permainan modern tak bisa diandalkan untuk mendidik karakter bangsa karena sifatnya individualis. Padahal, lanjut dia, membangun diri pasca bencana harus disikapi dengan lapang dada dan semangat yang tinggi. Karena itu, media mainan anak pada refleksi gempa sangat cocok karena mampu menumbuhkan semangat dan motivasi untuk terus bangkit dari dampak gempa bumi tahun 2006 silam. (Anto SP)



Sekedar mengingat, Kota Klaten 'mati' Puluhan warga meninggal, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkantor di Klaten, dan langsung menjenguk para pasien korban gempa ke RSU dr Soradji.

Seperti diketahui, pasca Gempa Bumi yang terjadi Sabtu (27/5) pagi membuat warga kalang kabut berhamburan mengungsi di tempat yang dinilai aman. Padahal, ketika gempa terjadi mengakibatkan ratusan rumah hancur rata tanah, puluhan warga tewas terkena runtuhan bangunan. Akibat gempa tersebut, puluhan warga meninggal dan ratusan luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit.

Sementara itu, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto menyempatkan ke RSU dr Soeradji Tirtonergoro Klaten, menengok warga yang dirawat di rumah sakit setempat.

Menurut pemantauan media, isu stunami yang membuat warga panik dan berusaha mencari tempat aman tersebut membuat kota Klaten 'mati'. Jalan raya Pemuda yang semula satu arah dari Solo, menjadi arah terbalik, pengguna jasa jalan meluncur ke arah timur, dengan berteriak banjir Stunami sudah mendekati Klaten. Untung saja Kapolres Klaten AKBP Lilik Purwanto SH MHum, segera melakukan antisipasi menenangkan warga lewat gelombang radio dan penerangan di jalan raya. 


"Warga masyarakat agar tenang tapi waspada, pasca gempa yang kemudian diisukan gelombang stunami hanya isu belaka. Baru saja saya mendapat info bahwa daerah atau wilayah Kabupaten Bantul, Yogyakarta dalam kondisi aman dari bencana yang diisukan," terang Kapolres Klaten AKBP Lilik Purwanto SH MHum.

Terpantau, tidak saja warga yang kebetulan berada di jalan raya secara himpit-himpitan menuju ke arah timur dari arah Yogyakarta. Warga di berbagai desa di wilayah Klaten, seperti di Kecamatan Prambanan, Bayat, Gantiwarno, dan Wedi yang saat gempa tercacat paling parah menelan korban, dan tempat tinggal. "Keributan campur panik mewarnai langkah sebagian warga yang mengantarkan keluarganya menuju ke rumah sakit.

Hingga Jumat sore di RSU dr Soeradji Tirtonegoro, Klaten ada 50 warga meninggal. Di RSI Klaten 6 warga meninggal, dan RSI Manisrenggo 5 orang meninggal. Selain ratusan warga yang luka-luka, hingga Jumat sore warga masih berupaya mengevakuasi warga yang dimungkinkan masih terkubur di reruntuhan bangunan rumah. "Sementara di Kecamatan Wedi ada 15 warga meninggal yang belum di bawa ke Rumah Sakit," tutur S Yono, penduduk setempat.

Korban luka-luka paling parah Pacing, Kecamatan Wedi, Klaten, sebingga dari rombongan Kopasus bersama tenaga medisnya dan PMI hingga kehabisan obat. Di wilayah Jimbung Kulon, Tegalsari, Desa Kadibolo, Bayat terjadi tanah patahan sepanjang jalan raya.

"Bencana gempa tadi pagi (Kamis pagi 27/5) ratusan rumah rusak parah rata dengan tanah. Seperti di Kecamatan Wedi tercatat 1.502 rumah roboh, 812 rumah hancur, Kecamatan Karanganom ada 572 rumah rusak parah, seorang warga meninggal, dan puluhan luka-luka," ungkap seorang anggota Polsek Karanganom.

Puluhan warga yang meninggal di rumah sakit, baik di RSU dr Soeradji Tirtonegroro, RSI Klaten, RSI Manisrenggo, dan RS Cakra hingga Sabtu sore belum detail identitasnya. "Karena situasi dan banyaknya pasien yang masuk maka identitas korban belum secara sempurna. Karena ruang rumah sakit tak mampu menampung, didirikan tenda darurat untuk perawatan para pasien," ungkap Slamet Mamad securety SRU dr Soeradji Tirtonegoro, Klaten.

Terpantau, saat itu warga semula terpokus di bencana Merapi, namun pasca gempa, di berbagai daerah utamanya di lapangan berdiri tenda-tenda sebagai antisipasi terjadinya gempa susulan. Begitu situasi tenang, banyak kepala keluarga/orang tua mencari anggota keluarganya, karena pada saat isu gelombang stunami warga berhamburan ikut naik truk mengungsi di tempat yang dinilai aman. (Drs Sumanto SP)
Bagikan Berita :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

BERITA POPULER

Cari Blog Ini

 


Copyright © 2011. INDEPNEWS.Com - All Rights Reserved