![]() |
| Para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II |
''Kondisi ini membuat anggaran dalam APBN yang berjumlah trilunan rupiah itu terbuang sia-sia,'' kata pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago di Jakarta, Sabtu (13/7).
Para menteri, katanya, semakin lemah dalam berkoordinasi karena terlalu banyak latar belakang pertimbangan politik. Terlebih lagi pemilihan umum segera tiba. Di tengah lemahnya koordinasi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono justru tetap mempertahankan gaya kepemimpinan yang terlalu percaya pada prosedur dan struktur formal.
Dampaknya, menurut dia, para menteri hanya bisa saling menyalahkan dan Presiden Yudhoyono pun hanya bisa marah-marah tanpa tindakan tegas. ''Padahal para pembantu Presiden banyak yang harus didorong dan diawasi atasan untuk bekerja,'' kata Andronof.
Idealnya, kata dia, semua pembantu Presiden satu visi, satu tujuan dan saling berkoordinasi dalam menjalankan tugas. Tidak boleh ada yang punya agenda sendiri-sendiri. ''Kalau tidak maka akan banyak sumber daya sia-sia baik di birokrasi maupun anggaran APBN,'' jelas Andrinof lagi.
Seperti diketahui dalam rapat kabinet terbatas siang tadi di Lanud Halim Perdana Kusuma Jakarta, Presiden Yudhoyono gusar mengenai beberapa isu yakni kasus kerusuhan di LP Tanjung Gusta Medan, serta harga daging sapi yang melonjak. Presiden marah karena para menteri terkesan saling menyalahkan. [PN-o250]


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !