![]() |
| Suasana merapi saat kejadian (Anto) |
Bermula suara gemuruh disertai material pijar ke angkasa yang kemudian disusul hujan abu membuat warga panik. Suara gemuruh yang terdengar keras sekitar pukul 04.15 WIB itu semakin lama semakin menakutkan. Sebab, hujan abu bercampur pasir lembut disertai gerimis mengguyur pemukiman lereng merapi. Sehingga warga keluar rumah dan berlarian menuju ke titik pengungsian.
"Dengan menggunakan motor dan kendaraan roda empat warga menyelematkan diri meninggalkan harta benda menuju ke wilayah lereng bawah. Warga mengungsi di Lapangan Desa Dompol dan kompleks Kecamatan Kemalang," ungkap Barjiono, seorang tokoh masyarakat Desa Sidorejo, Kemalang.
Lebih lanjut dijelaskan, warga trauma seperti letusan tahun sebelumnya, saat itu muhjizat Tuhan berupa angin yang menyelamatkan warga di dua desa tersebut. Di saat itu, awan panas alias wedhus gembel sudah berada di atas Dusun Sambungrejo, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten. Tapi tiba-tiba angin menyapu dan membalikkan arah wedhus gembel tersebut.
"Wedhus gembel yang menggumpal saat itu sudah melewati bukit itu mas, kalau saja tidak dihembus oleh angin yang cukup kencang arahnya tetap ke sini,’’ ujar Warsono warga Sambungrejo mengenang letusan tahun sebelumnya.
Kepanikan dari Sambungrejo memang terlihat. Pasalnya, ratusan warga mulai dari anak-anak hingga kakek-kakek berlari sambil berteriak-teriak di sepanjang jalan kampung. Mereka berusaha menyelamatkan diri menyongsong kendaraan evakuasi dari bawah yang tidak kunjung datang. Apalagi saat itu, wedhus gembel sudah melewati batas vegetasi persis di atas gunung Bibibiyung.
"Sangat kacau mas, wedhus gembel ini adalah yang terbesar yang pernah saya lihat. Dan hal itulah yang menyebabkan warga pontang-panting," ujar dia.
Kondisi yang sama juga dialami warga Deles, Desa Sidorejo. "Hujan abu bercampur material pasir Senin pagi yang disusul getaran gempa kecil itu membuat warga kocar-kacir berhamburan keluar rumah,’’ ungkap S Giarto, warga Deles, Desa Sidorejo. Kepanikan warga sedikit mereda tatkala mereka bisa menaiki truk evakuasi yang siap membawanya ke daerah aman.
Di sisi lain, sepanjang hari Senin itu langit menjadi pekat. Menurut Parjo, saat dia dalam perjalanan dari Sleman ke Klaten menuju Balerante hujan abu sudah mulai mengguyur.
“Gelap mas, hampir sepanjang jalan menuju ke sini dari arah Sleman diguyur abu, lha ini mobil saya penuh abu,’’ kata Parjo seraya menunjuk Daihatsu pick up yang penuh dagangan miliknya.
Meski demikian, sejumlah warga mengaku sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi dan mereka alami nantinya. Mereka seolah tidak terkejut melihat aktivitas Merapi yang sedang menebar ancaman tersebut. ‘’Saya tidak ikut ngungsi Mas. Pemandangan seperti ini sudah sering saya lihat dan alami,’’ ungkap Mbah Gito enteng.
Kepanikan juga melanda warga yang bermukim di lima dusun, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Mereka mengungsi pasca peristiwa hujan abu. Mereka ditampung di pusat titik kumpul, Umbulharjo dan Glagahharjo. Pengungsi yang berjumlah 650 orang berasal dari Dusun Pangukrejo dan Ngrangkah ditampung di balai Desa Umbulharjo. Sedang Glagahharjo menampung 500 orang dari dusun Srunen, Kalitengah Lor, dan kalitengah Kidul.
Menurut Kapolsek Cangkringan AKP Surahman, setelah pihak berwenang menyatakan situasi normal, sekitar pukul 07.00 WIB pengungsi diperbolehkan pulang kecuali balita, lansia dan ibu menyusui.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi dan Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Subandrio mengungkapkan, Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta sempat meningkat aktivitasnya dengan menghembuskan asap setinggi 1.000 meter dari puncak, dan hujan abu pekat yang terjadi di wilayah Kabupaten Klaten dan Sleman. Namun demikian, hingga sekarang ini status Merapi tetap aktif normal. "Status gunung Merapi tetap aktif norma, tak ada perubahan," ujarnya.
Menurutnya, peningkatan aktivitas Merapi terpantau di beberapa pos pengamatan. Pada pukul 04.14 WIB terjadi gempa vulkanik dan suara gemuruh, Kemudian terjadi hembusan asap kuat selama 34 menit hingga pukul 04.49 WIB. "Asap terlihat hingga seribu meter dari pos pengamatan di Selo, Boyolali," katanya.
Dijelaskan, hujan abu vulkanik terjadi di sisi timur,tenggara hingga wilayah Kecamatan Kemalang, Klaten dan Selatan wilayah Sleman. Namun di sisi barat dan utara tak terjadi, karena pengaruh angin. Sehubungan aktivitas Merapi tersebut pihaknya menghimbau agar tidak melakukan pendakian ke puncak Merapi. Dia mengingatkan, untuk pendakian lebih baik tak dilakukan mengingat aktivitas Merapi yang meningkat saat ini, kendati berstatus aktif normal.
Sementara adanya aktivitas vulkanik Merapi, membuat kondisi Desa Sidorejo, Balerante, Kemalang Klaten, lumpuh, Senin (22/7). Menurut pemantauan, hampir seluruh rumah, lahan pekarangan, jalan, dan lahan pertanian di Desa Sidorejo, dan Balerante, Kemalang, Klaten, tertutup abu bercampur pasir halus pekat. Terlihat warga menggunakan masker untuk beraktivitas. Kegiatan Belajar mengajar di sejumlah SD di Desa Balerante, Sidorejo, Tlogowatu, dan Tegalmulyo, Kemalang praktis tutup. Meski para guru datang di sekolah, namun para siswa memilih tinggak di rumah.
Camat Kemalang, Klaten, Bambang Harjoko MM menyatakan, jumlah pengungsi ada sekitar 1.500 orang. Jumlah tersebut berasal dari Desa Balerante, dan Sidorejo. Sedangkan Desa Tegalmulyo, Tlogowatu, Panggang, Bawukan, Bumiharjo dan lainnya tak mengungsi. (Anto)


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !