Kemarau Bantuan Pemkab Klaten Belum Jangkau, Ternak Dimakani Debok & Air Bersih Rp 160 Ribu/Tangki INDEPNEWS.Com
Headlines News :
Home » , , » Kemarau Bantuan Pemkab Klaten Belum Jangkau, Ternak Dimakani Debok & Air Bersih Rp 160 Ribu/Tangki

Kemarau Bantuan Pemkab Klaten Belum Jangkau, Ternak Dimakani Debok & Air Bersih Rp 160 Ribu/Tangki

Ditulis Oleh redaksi Senin, 23 September 2013 | 12.46

Seorang penjual air bersih swasta sedang menyedot air [Sumanto SP] 
KLATEN - INDEPNEWS.Com : Kendati Pemkab Klaten, kabarnya sudah melakukan pengedropan air di daerah rawan kekeringan, namun masyarakat di lereng Merapi seperti di wilayah Kecamatan Kemalang, Karangnongko, Jatinom dan Kecamatam Tulung, masih tetap kekurangan / kesulitan air bersih. Bantuan dropping air dari Pemkab belum bisa menjangkau ke seluruh pelosok desa rawan air bersih.

"Sejak pertengahan musim kemarau, Tandon air sudah kering kerontang. Sehingga, warga harus bersusah payah untuk mendapatkan air bersih. Sementara hewan besar (sapi-red) piaraan terpaksa diberi makan debok (batang pisang) untuk mengurangi kebutuhan minumnya," ungkap sejumlah warga/peternak sapi di wilayah Kecamatan Karangnongko dan Kemalang.

Seperti diketahui, setiap musim kemarau, sedikitnya empat wilayah kecamatan meliputi 18 desa yang ada di wilayah Klaten, termasuk daerah kekeringan. Warga masyarakat khususnya yang bermukim di lereng Merapi untuk mendapatkan air bersih harus bersusah payah. Bagi warga yang tidak mampu membeli air seharga Rp 75.000 sampai Rp 160.000/tanki, untuk memenuhi kebutuhan air bersih harus berjalan beberapa kilometer dari kampung halamannya.

Menurut keterangan yang diperoleh hingga Senin (23/9), empat kecamatan yang merupakan 'langganan' rawan air bersih tersebut antara lain Kecamatan Karangnongko, Kemalang, Jatinom dan Kecamatan tulung. Disebutkan, kendati pihak Pemkab sudah melakukan droping bantuan air bersih, namun banyak warga yang tetap kekurangan air, khususnya peternak yang mengalami kesulitan mendapatkan air minum untuk ternak sapi.

Dikatakan, kekurangan air untuk kemarau tahun ini diakui lebih awal. Terlebih dengan penambangan bahan galian golongan C secara besar-besaran yang merusak lingkungan, dan sumber air. Sehingga, untuk mencari air (ngangsu-red) ke daerah lain dan harus berjalan kaki beberapa kilometer dari tempat tinggalnya. 

"Warga peternak sebenarnya sudah berusaha melakukan penghematan. Tetapi karena kebutuhan air terlalu besar, maka air tandon tidak mencukupi," kata Triyono, penduduk wilayah Kecamatan Kemalangn yang juga diiyakan warga yang lain.

Seorang peternak di daerah Kecamatan Jatinom mengungkapkan, biasanya untuk seekor hewan piaraan disediakan 40 sampai 50 liter air sehari. "Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka saya sekarang lebih memikirkan kepentingan ternak dan mengalah mandi hanya sekali sehari," katanya.

Debok
Ungkapan senada juga dikemukakan beberapa peternak di wilayah Kecamatan Jatinom, dan Kemalang dan Karangnongko, mereka terpaksa mengambil jalan pintas dengan memberikan makan batang pisang (debok) atau pohon pepaya kepada ternak sapi, meski diakui hal tersebut kurang baik untuk hewan yang sedang memproduksi susu. Ini dilakukan lantaran kesulitan mendapatkan air dan hijauan pakan ternaknya. Sehubungan itu, para peternak berharap kepada Pemkab Klaten agar menambah/meningkatkan jumlah bantuan (droping) air ke daerah-daerah rawan kekeringan. 

“Meski kabarnya Pemkab Klaten sudah turun tangan membantu dengan dropping air bersih, namun sebagian besar warga daerah rawan air belum terjangkau bantuan air bersih,” ungkap Suwaji Harjono, warga Kemalang.

Menurutnya, seperti pengalaman tahun lalu, bantuan dropping air dari Pemkab hingga memasuki musim penghujan belum bisa merata di seleruh pelosok desa rawan air bersih. Meski, menurut kabar, pemkab Klaten dalam hal ini bagian sosial sudah sejak awal bulan lalu melakukan droping air bersih kepada empat wilayah kecamatan masing-masing Kecamatan Kemalang, Karangnngko, Jatinom dan Tulung, namun sebagian besar warga khususnya peternak masih susah mendapatkan air.

Seperti diketahui, berdasar data di Pemkab Klaten,ada empat wilayah Kecamatan daerah rawan kekeringan antara lain Kecamatan Kemalang ada 9 desa, Jatinom 9 desa, 4 desa masuk wilayah kecamatan Karangnongko dan Kecamatan tulung ada dua desa.

Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Klaten, Joko Rukminto mengungkapkan, upaya mengatasi kekeringan dilakukan dengan memberikan bantuan air bersih. Seluruh mobil tanki yang dimiliki Pemkab Klaten, sudah diserahkan pengelolaannya ke BPBD. Namun demikian, hanya 6 mobil tangki yang masih bisa dioperasikan dengan baik, itu pun usianya sudah tua, sehingga tak berani untuk mengirim air ke daerah atas yang medannya sulit.

Sebelumnya, Direktur Utama PDAM Klaten, Ambar Muryati mengatakan, bahwa perusahaan daerah yang dia pimpin sudah melakukan dropping air bersih di daerah rawan air. Disebutkan, ada belasan desa yang tersebar di empat kecamatan yaitu Jatinom, Karangnongko, Kemalang dan Bayat yang menjadi sasaran droping air bersih PDAM.

“Untuk tahap awal kami akan mengirim 100 tangki air bersih ke daerah yang mengalami krisis air bersih. Jika nanti ada pengajuan tambahan lagi dari pemerintah desa maka kami akan menambahkan lagi,” ujar Ambar Muryati, seraya mengatakan, kalau kegiatan droping air bersih ke daerah kering merupakan bagian dari bhakti sosial yang diadakan PDAM. Sebagai perusahaan milik daerah PDAM ikut berpartisipasi dalam mengatasi krisis air bersih yang terjadi dibeberapa desa yang ada di wilayah Klaten. (Anto)
Bagikan Berita :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

BERITA POPULER

Cari Blog Ini

 


Copyright © 2011. INDEPNEWS.Com - All Rights Reserved