Gabungan keluarga korban pelanggaran HAM dan LSM HAM meminta masyarakat untuk tidak memilih Capres Pelanggar HAM berat pada pemilu presiden-wakil presiden. (Warta Kota/Henry Lopulalan)
JAKARTA - INDEPNEWS.Com : Ketua SETARA Institue, Hendardi, menjelaskan penyangkalan atas klarifikasi Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Wiranto perihal penculikan aktivis semakin menunjukkan kepanikan pihak Prabowo dan para pendukungnya atas fakta dan kebenaran yang mulai terungkap.
"Penyangkalan juga telah melahirkan manipulator-manipulator sejarah yang membabi buta mengumbar pernyataan yang sengaja didesain untuk mengaburkan fakta," kata Hendardi dalam keterangannya, Rabu (25/6/2014).
Menurut Hendardi, kelompok ini sangat berbahaya karena akan mewariskan sejarah kelam kemanusiaan. "Fakta penculikan itu terjadi jelas terlihat dalam executive summary laporan Komnas HAM dan dokumen DKP yang beredar dan menunjukkan keterlibatan Prabowo," kata Hendardi.
Ditegaskan apa yang disampaikan Johannes Suryo Prabowo, Kivlan Zein, Elsa Syarif, dan kubu Prabowo lainnya bukanlah suara korban penculikan melainkan suara politisi yang membela Prabowo Subianto.
"Suara korban yang pantas didengar adalah mereka-mereka yang tidak terjun ke partai politik dan selama ini memperjuangkan keadilan bagi korban dan setiap Kamis berdemo didepan istana," katanya.
Dijelaskan publik harus cermat dan gunakan rekam-jejak masa lalu sebagai salah satu pertimbangan menentukan pilihan. (TRIBUNNews.Com)
![]() |
| Hendardi dari Setara Institut, Haris Ashar dari Kotras, (kiri-kanan) di Kantor Kontras, Jalan Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (Warta Kota/henry lopulalan) |
"Penyangkalan juga telah melahirkan manipulator-manipulator sejarah yang membabi buta mengumbar pernyataan yang sengaja didesain untuk mengaburkan fakta," kata Hendardi dalam keterangannya, Rabu (25/6/2014).
Menurut Hendardi, kelompok ini sangat berbahaya karena akan mewariskan sejarah kelam kemanusiaan. "Fakta penculikan itu terjadi jelas terlihat dalam executive summary laporan Komnas HAM dan dokumen DKP yang beredar dan menunjukkan keterlibatan Prabowo," kata Hendardi.
Ditegaskan apa yang disampaikan Johannes Suryo Prabowo, Kivlan Zein, Elsa Syarif, dan kubu Prabowo lainnya bukanlah suara korban penculikan melainkan suara politisi yang membela Prabowo Subianto.
"Suara korban yang pantas didengar adalah mereka-mereka yang tidak terjun ke partai politik dan selama ini memperjuangkan keadilan bagi korban dan setiap Kamis berdemo didepan istana," katanya.
Dijelaskan publik harus cermat dan gunakan rekam-jejak masa lalu sebagai salah satu pertimbangan menentukan pilihan. (TRIBUNNews.Com)


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !