![]() |
| Sejumlah pembeli di pasar Legi Bonyokan, Jatinom, Klaten terlihat sedang memilih-milih barang yang akan dibelinya. (Joko Larsono) |
Namun, para pedagang di pasar Legi tersebut yang memasarkan barang dagangannya dipinggir jalan sering kali mengundang kemacetan jalan. Pengelolaan yang belum maksimal itu terlihat nampak kumuh.
Pasar Legi yang berada di Bonyokan tersebut awalanya hanya dipinggir-pinggir lapangan, tapi sekarang sudah melebar kejalan disampaing lapangan. “Mulai Desa bekerja sama dengan Disperindagkom, kami tidak mengetahui hasilnya berapa dan jumlahnya berapa,” ungkap Camat Jatinom Anang Wijadmoko diruang kerjanya, baru-baru ini.
Untuk mengantisipasi kemacetan jalan raya, pihaknya pernah menawarkan pasar Legi berada di dekat pasar hewan. Tapi pihak desa tidak sepakat dan memilih tetap di lokasi lapangan. “Ya, dulu pernah ditawari untuk pindah didekat pasar sapi (pasar hewan,red) namun perangkat desa menghendaki di Bonyokan,” katanya.
Kepala Desa setempat Indra Budiawan mengatakan, pasar itu tumbuhnya dari masyakat sendiri dan sekarang dari desa sudah diserahkan sama tim pengelola. “Setiap tahun kami terima laporan dari mereka, dan memang ada rencana penataan agar lebih rapi. Namun kapan waktunya selama ini baru wacana. Dan para pedagang tersebut hanya ditarik Rp2000 untuk dana kebersihan,”katanya.
Sementara Carik (Sekretaris Desa) M Ridwan mengungkapkan awal mulanya boming pasar Legi adanya penjual pakaian bekas pada waktu itu. “Pasar Legi menjadi penghasilan dan kemakmuran warga masyarakat sekitarnya karena mereka pada umumnya bisa berjualan dan mendapat pekerjaan dari pasar tersebut meskipun hanya lima hari sekali,”ujarnya.
Anang Wijatmoko mengatakan kedepan Jatinom akan mempunyai pasar hewan terpadu dengan luas 1,4 hektar. Dengan adanya pasar hewan terpadu tersebut berharap bisa menyejahterakan masyarakat banyak. “Sekarang sudah mulai diurug-urung, tapi pihak desa dan kecamatan tau jadi saja,” pungkasnya (Joko Larsono).


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !