![]() |
Ditulis oleh : Desyrijanti (Researcher Bidang Transportrasi
dan Urban Development-Tinggal di Jakarta)
|
JAKARTA, INDEPNews ; Hidup di
pinggiran Kota Jakarta memang menjadi dilema tersendiri. Disatu sisi kita
masih bisa menghirup udara segar, namun disisi lain ada banyak biaya yang harus
dibayar jauh lebih besar dibandingkan dengan hidup di Kota
Jakarta. Salah
satu biaya yang cukup tinggi dikeluarkan oleh masyarakat yang memilih tinggal
di pinggiran Kota Jakarta adalah biaya transportasi.
Transportasi umum di wilayah pinggiran Kota Jakarta biasanya menggunakan kendaraan kecil dengan jarak terbatas dan ongkos yang mahal. Hal ini sangat berbeda dengan kendaraan umum yang ada di Kota Jakarta. Umumnya di Kota Jakarta menggunakan kendaraan besar, jarak tempuh cukup jauh dan ongkos minimal. Apalagi saat ini di Kota Jakarta sudah ada Busway yang dapat mempercepat waktu tempuh dengan ongkos yang minimal.
Transportasi umum di wilayah pinggiran Kota Jakarta biasanya menggunakan kendaraan kecil dengan jarak terbatas dan ongkos yang mahal. Hal ini sangat berbeda dengan kendaraan umum yang ada di Kota Jakarta. Umumnya di Kota Jakarta menggunakan kendaraan besar, jarak tempuh cukup jauh dan ongkos minimal. Apalagi saat ini di Kota Jakarta sudah ada Busway yang dapat mempercepat waktu tempuh dengan ongkos yang minimal.
Perbedaan
transportasi umum di pinggiran Jakarta dengan Jakarta yang sangat signifikan tersebut menyebabkan
masyarakat yang tinggal di pinggiran Jakarta
harus berfikir keras untuk menekan biaya transportasi seminimal mungkin.
Karenanya banyak dari masyarakat yang tinggal di pinggiran Jakarta menggunakan kendaraan roda dua untuk
menekan biaya tersebut. Penggunaan kendaraan roda dua ini semakin marak karena
proses kepemilikan kendaraan ini sangat mudah dan ditambah lagi mudahnya
pemberian kredit oleh perbankan ataupun lembaga keuangan lainnya.
Data menunjukkan
setidaknya ada pertambahan 1000 kendaraan roda dua per tahun di Jakarta dan sekitarnya
(data ini saya ambil dari headline berjalan di salah satu tv swasta). Melihat
angka yang cukup fantastis tersebut maka tidaklah salah jika saat ini ada
ribuan kendaraan bermotor dari wilayah pinggiran yang memasuki Kota Jakarta
pada jam-jam tertentu.
Akibatnya
transpsortasi umum di pinggiran Jakarta
kondisinya cukup memprihatinkan karena angkutan umum ini jumlahnya banyak
tetapi penggunanya sedikit bahkan kalau boleh saya katakan sangat sedikit
(tidak sebanding antara supply dan demand). Belum lagi hampir ditiap tikungan
sopir angkot harus menyerahkan sejumlah uang kepada preman per sekali jalan.
Melihat potret
transportasi umum di pinggiran Jakarta
tersebut timbul pertanyaan dalam hati kecil saya, dapatkah transportasi umum
ini bertahan dan bersaing dengan kendaraan pribadi (roda dua), jika hampir
semua keluarga memiliki kendaraan roda dua sebagai alat transportasi mereka?.
Cukupkah uang yang dibawa sopir angkot untuk membayar setoran dan biaya hidup
keluarganya sehari-hari?.
Ahhh sudahlah terlalu banyak fakta dilapangan yang membuat miris hati
ini, padahal saya tidak dapat banyak membantu untuk menyelesaikan masalah
tersebut. Tapi sungguh, saya tidak dapat menutup mata. Saya berharap dengan
saya menulis hal ini setidaknya saya bisa berbagi kegelisahan kepada orang lain
dan syukur-syukur kalau kelak mereka juga turut memikirkan masalah ini dan
dapat bersama-sama mencarikan jalan keluar yang terbaik. Amin. (DA)


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !