JAKARTA - INDEPNews ; Tim unggulan Jerman melengang mulus ke Semi Final
Piala Eropa 2012, setelah menang telak
4-1 (1-0). Pasukan Joao Laow pada babak
pertama mendapatkan perlawanan a lot dari tim Yunani. Meski mengurus pertahanan
lawan sepanjang pertandingan, Philips Lahm dkk, bekum bisa menembus pertnanan
Yunani yang bermain ofensif.
Kebuntutan,
Der Panzer baru berhasil menjebol gawang lawan, pada akhir pertandingan babak
pertama lewat tembakan melengkung kapten Jerman Philips. Lahm. Hingga akhire pertandingan, Jerman
mencukur Yunani 4-2. Gol-gol kemenangan Jerman dicetak Philips Lahm, Reues,
Schurlle dan Kolose.
Dalam perandingan perempat Final, Jerman
dan Yunani tampil dengan formasi yang berbebda. Yunani tampil ofensif dengan
mengandalkan serangan balik yang cepat dari kedua sayapnya. Lewat formasi
tersebut, Jerman mampu mengelontor gawang Yunani empat gol.
Disisi lain, lewat serangan balik dan
mengdandalkan ujung tombaknya Samaras, Yunani mampu menjebol penjaga gawang
terbaik dunia, Nuer. Ini membuktikan,m bahwa formasi yang diterapkan Yunani
snagat efektif, meski kalah dia mampu meladeni permainan Jerman.
Perubahan formasi tim Jerman begitu
sangat mencolok, tiga starter di lini depan dirombak total. Tiga andalan
Jerman, Mario Gomes, Lukas Podolski dan Miroslav Klose disitiratkan. Pelatih
Joao Laow measang starter Andree
Schurllle, Marco Reus dan Thomas Muller.
Perubahan formasi yang Jerman ternyata
sangat berhasil.pada babak pertama baru membuahkan satu gol.Pada babak kedua
Klose measuk menggantikan Podolski, sehingga serangan begitu gencar. Keasyikan
menyerang. Yunani mampu menyamakan kedudukan 1-1.
Gal yang Yunani membuat pemain Jerman
tersentak, sehingg meningkatan serangan. Hasilnya, lewat sepak pojok Jerman
mampu unggu; 2-1 setelah tembakan fisrt time Sammy Kheidira menjebol gawang
Yunani.
Selang beberapa menit kemudian, Klose
membawa Jerman ungul 3-1, setelah sontekannya menjebol mucus gawang Yunani.
Meski sudah ungul 3-1, Jerman tidak mengndorkan serangan dan akhirnya menambah
gal lagi lewat tembakan Rues, sehinhgga kedudukan 4-1.
Pada akhir pertandingan, Yunani mempu
memperkecil ketinggalan setelah mendapat hadiah finalti, setelah pemain
bertahan Jerman Boateng tangannya menyentuh bola di area teralarang.
Tendanan finalti diambil ujung tombak
Yunani Salpingidis. Denfan tenang, Salpingidis mampu menjalankan tugasnya
dengan baik, mengecoh kipper Jerman Nuer, Gol. Sehingga, kedudukan berubah
menjadi 4-2 hingga pertandingan.
Strategi pelatih Yunani, Fernando
Santos, memang berhasil meredam pemain Jerman. Dia memasang stater berubah-ubah
baik dilini tengah maupun depan. Khusus menghadapi Jerman, dia memasang
kombinasi Theofanis Gekas, DimitrisSalpingidis, Georgios Samaras dan Sotirios
Ninis.
Absennya kapten tim Karagounis memang
membuat pincang barisan pengempur Yunani. Namun, Fernando Santos memncoba
Griogrorius Makos. Upaya tersebut
sedikiit membuahkan hasil, meski tidak ada kapten tim Karagounis.
Santos meracik Yunani bermain 4-5-1. Meninggalkan
Salpingidis sendiri di depan, Santos memasang Makos dan Maniatis di depan defensive line serta memberi sedikit
kebebasan pada Katsouranis sebagai pengatur serangan.
Saat Jerman menguasai bola, Makos dan
Maniatis selalu bergerak sejajar tepat di depan barisan pertahanan sendiri.
Keduanya jarang langsung melakukan duel dengan pemain Jerman jika belum masuk
ke sepertiga lapangan terakhir Yunani. Yang dilakukan tetap konstan menjaga
wilayah.
Cara bermain Makos dan Maniatis punya
kekuatan dan kelemahannya. Kekuatannya: memberi cukup ruang pada Katsouranis
untuk merancang serangan begitu bola berhasil dikuasai Yunani. Kelemahannya
adalah begitu penguasaan daerah berhasil ditembus, tidak cukup back-up yang
bisa memberi perlindungan pada defensive
line .
Cara bertahan rancangan Santos
ini rupanya sudah diantisipasi oleh Loew dengan memasang Schuerrle dan Reus, yang memang sangat
aktif melakukan shot.
Keduanya masuk dari lebar lapangan, mencari celah, lalu melakukan shot. Hanya di laga ini saja kedua
pemain ini membuat 12 percobaan mencetak gol (Schuerrle 6, Reus 6). Jumlah itu jauh lebih banyak dari
kombinasi Mueller dan Podolski yang dalam 3 laga hanya membuat 11 shot
(Podolski 7, Mueller 4).
Skema ini berjalan baik di babak
pertama. Kombinasi Schuerrle-Reus menyumbang 5 shot sepanjang babak awal. Gol pertama Jerman, kendati
bukan dari Schuerrle atau Reus,
melainkan dari Philipp Lahm, lahir dari ide dasar menyerang dari lebar lapangan
dan diakhiri dengan shot.
Gol keempat Jerman yang dicetak Reus juga hasil skema ini.
Seperti terlihat dalam gambar di atas, Reus
bergerak ke dalam kotak penalti saat Klose berhadapan dengan kiper Sifakis.
Ketika sepakan Klose dihalau Sifakis, Reus
yang sudah masuk ke dalam kotak penalti berada dalam posisi yang tepat untuk
mengeksekusinya menjadi gol.
Untuk pertama kali selama EURO 2012 ini
Oezil banyak mengatur tempo di tengah lapangan, bukan di belakang striker atau
lebar lapangan. Khedira juga untuk pertama kali sepanjang EURO sering berada di
depan Oezil. Jika Oezil seperti menjadi deep-lying
playmaker, Khedira sering berperan sebagai attacking midfielder.
Saat Oezil memegang bola, Khedira
berinisiatif merengsek ke depan sehingga berada tepat di belakang Klose. Ini
membuat Khedira berhadapan Makos-Maniatis dan Oezil berhadapan dengan
Katsouranis. Kombinasi antara pembagian peran Oezil-Khedira dan skema shot dari lebar lapangan berjalan
sempurna pada gol pertama yang dicetak Lahm.
Gol Khedira juga menjelaskan berjalannya
kombinasi pertukaran peran antara Oezil dan Khedira. Saat Boateng mengumpamnhg
bola, Schweinsteiger mengecoh pemain Yunani, sehingga Khedira leluasa menendang
bola dan terjadi gol. Khedira dengan sempurna mengeksekusi umpan Boateng
menjadi gol.
Sementara cara bermain Makos-Maniatis yang selalu sejajar
memberi ruang bagi Katsouranis membangun serangan balik. Biasanya, Katsouranis
tak langsung mengirim bola pada Salpingidis, tapi mendistribusikannya pada
Ninis di kanan atau Samaras di kiri. Pada babak I, sejak awal pertandingan,
Samaras menjadi tumpuan utama Yunani dalam mengganggu kenyamanan bermain
Jerman.
Ditempatkan sebagai flank, Samaras
dirancang juga untuk ikut bertahan. Kartu kuning yang didapatkannya juga karena
upaya Samaras merebut bola di sisi kiri yang ditempatinya. Saat menyerang, ia
selalu terlibat adu sprint dengan
Boateng, beberapa kali menang. Kendati tidak menghasilkan gol di babak I, cara
Yunani melakukan serangan balik melalui Katsouranis dan Samaras ini seperti
tinggal menunggu momentum.
Tertinggal 1-0 di babak I, Santos melakukan
pergantian pemain di awal babak II. Ninis diganti Theofanis Gekas. Perubahan
ini dilanjutkan dengan menggeser Salpingidis yang mulanya menjadi target-man ke sisi kanan dan
menempatkan Gekas sebagai striker. Sementara Samaras tetap menempati sisi kiri
Yunani.
Dalam sebuah serangan balik, Gekas
berhasil menarik keluar Badstruber. Gekas mengembalikan bola pada Katsouranis
yang langsung mengirim through-pass pada Salpingidis di sisi kanan lapangan.
Salpingidis berhasil mengalahkan Lahm dalam adu sprint dan mendapatkan momentum
untuk mengirim upan ke dalam kotak penalti. Saat Salpingidis beradu sprint
dengan Lahm, di sisi lapangan sebelahnya Samaras juga beradu sprint dengan Boateng.
Dari dua sisi lapangan, Salpingidis
(dalam lingkaran putih dengan Lahm) dan Samaras (dalam lingaran hitam dengan
Boateng) masuk ke dalam kotak penalti bersamaan. Di antara keduanya hanya ada
Hummels. Saat Salpingidis mengirim
crossing, Samaras menyempurnakan agresivitasnya dengan mengelabui
Boateng. Gol.
Gol kedua Yunani juga lahir dari skema
yang memanfaatkan celah yang ditinggalkan Khedira. Ketika Torosidis dengan leluasa memasuki kotak penalti Jerman
dan mengirim crossing yang megenai tangan Boateng. Ini membuktikan, serangan
balik Yunani begitu efektif dan berbahaya.
Gol yang dicetak Khedira, Lahm dan Reus lahir dari kombinasi
skema rancangan Loew: membiarkan Khedira naik ke depan sampai kotak penalti dan
rencana untuk melakukan shot
dari pergerakan yang dimulai dari lebar lapangan.
Sementara dua gol Yunani juga bisa
dibilang skematis: perpaduan antara skema melakukan serangan balik melalui
lebar lapangan dan skema yang memberi ruang pada Katsouranis untuk memulai
serangan balik serta memanfaatkan celah yang ditinggalkan Khedira.
Dengan membiarkan Khedira naik ke depan,
ini cara untuk mengatasi kombinasi Makos-Maniatis yang konstan menjaga area di
depan defensive-line. Ini
berhasil melahirkan 3 gol open-play
(1 gol lewat Klose lahir dari skema bola mati). Tapi skema itu membuat
Scweinsteiger bekerja sendirian menjaga kedalaman. Ini membuat skema serangan
balik Yunani akhirnya juga bisa berjalan baik.
Akan tetapi, jelas juga, Loew
memenangkan pertarungan strategi ini. Memasukkan Reus, Schuerrle dan Klose
terbukti menentukan hasil akhir. Schuerrle dan Klose bahkan mencetak gol.
Dibiarkannya Khedira naik ke depan juga terbukti menghasilkan gol. Harga yang
harus dibayar Loew adalah dua gol Yunani. Tapi strategi Loew berhasil memancing
Santos untuk
berani terbuka mengeksploitasi celah yang "sengaja" diberikan Loew.
Yunani terbukti bersemangat melakukan serangan balik, seringkali dilakukan oleh
3 pemain (Samaras-Salpingidis-Gekas).
Dan harga yang harus dibayar Yunani
terlalu mahal: kemasukan 4 gol, sesuatu yang tak akan pernah terjadi pada
Yunani di bawah asuhan Otto Rehhagel dulu yang amat sangat sangat selektif
menentukan momen melakukan serangan balik. (Dtk/Sutarmin DS)


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !