![]() |
| Mahapatih GPH Tedjowulan saat Kirab Agung mengendarai seekor kuda bernama Srigading |
SURAKARTA - INDEPNews ; Berkaitan
dengan Sewindu Tingalan Dalem Jumenegan SISKAS PB XIII diadakan sebuah kirab yang
menjadi lebih istimewa, karena bertepatan pula dengan Hari Jadi Pemerintah Kota
Surakarta.
Kirab ini mengambil tema Menuju Keraton Yang Mandiri Terhormat dan Berwibawa. Mandiri adalah bagaimana keraton ini bisa bermanfaat bagi masyarakat, bagi pemerintah. Jadi kedepan kita ini tidak hanya bergantung pada APBN.
Keraton adalah sumber budaya, maka keraton harus menjadi panutan, serta bagaimana keraton berguna bagi Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalau itu terbentuk maka akan terbentuklah sebuah keraton yang mandiri dan berwibawa.
Itu adalah sebuah konsep istilahnya suatu negara tanpa konsep tentulah tidak akan baik, semoga konsep ini bisa kita sumbangsih kepada negara sehingga akan terwujud suatu pemerintahan yang berwibawa pula. Tegas GPH Satryo Hadinagoro selaku ketua panitia.
Kirab ini mengambil tema Menuju Keraton Yang Mandiri Terhormat dan Berwibawa. Mandiri adalah bagaimana keraton ini bisa bermanfaat bagi masyarakat, bagi pemerintah. Jadi kedepan kita ini tidak hanya bergantung pada APBN.
Keraton adalah sumber budaya, maka keraton harus menjadi panutan, serta bagaimana keraton berguna bagi Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalau itu terbentuk maka akan terbentuklah sebuah keraton yang mandiri dan berwibawa.
Itu adalah sebuah konsep istilahnya suatu negara tanpa konsep tentulah tidak akan baik, semoga konsep ini bisa kita sumbangsih kepada negara sehingga akan terwujud suatu pemerintahan yang berwibawa pula. Tegas GPH Satryo Hadinagoro selaku ketua panitia.
Urutan peserta kirab: Spanduk Tema Kirab, Manggala Yudha (KGPH Mangkubumi) ,
Pangegar, GPH Tedjowulan, Korp Musik, Prajurit Tamtama, Prajurit Sorogen,
Urung-urung (sentana), Prajurit Panydra dan
pengamanan, Kereta Garuda Putra, Prajurit Pawira Anom, Kereta Moro Sebo,
Kereta Kyai Raja Peni, Prajurit
Jayenggastra, Pangayab (abdi dalem) kesenian rakyat seperti Seni Tari Angguk
dan Topeng Ireng dari Boyolali.Rute dari pagelaran dimulai sejak pukul 14.00 siang (17/06) menyusuri Jl. Jend Sudirman, Pasar Gedhe, Jl. Kapt Mulyadi kemudian menyusuri rute kirab 1 sura. Tukas GPH Satryo Hadinagoro.
Diawal keberangkatan kirab tampak beberapa warga yang membawa poster Mangayubagya Tinggalan Jumenegan Ndalem PB XIII serta Kanjeng Ratu PB XIII dan Putra Mahkota GPH Purboyo. Tepat di depan Kori Kamandungan. Disamping karpet merah yang membentang dari Kori Kamandungan hingga Pagelaran Keraton.
Dalam iringan kirab Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung (KPGH PA) Tedjowulan mengendarai seekor kuda bernama Srigading serta beberapa muspida yang turut mengendarai kuda di belakangnya. Kereta kencana Kyai Garuda Putra dinaiki PB XIII bersama permaisuri dan GPH Purboyo setelah bertahun - tahun tidak dinaiki sepeninggalan PB XI.
Secara terpisah Kapolresta Surakarta, Komisaris Besar Polisi Asjima’in mengatakan "Polisi mengerahkan 300 personil baik untuk keamanan maupun petugas yang mengatur lalu lintas guna mendukung kelancaran pelaksanaan kirab budaya ini", tegasnya disela - sela keberangkatan peserta kirab kepada tim Independent News Online. (Sugeng Kurniawan)


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !