![]() |
| Kondisi TPA yang mengganggu kesehatan warga di 3 RW (Foto : Sumanto) |
KLATEN - INDEPNews ; Merasa terganggu oleh keberadaan Tempat Pembuangan
Akhir (TPA) sampah, warga tiga RW di desa Jomboran Kecamatan Klaten Tengah
meminta kompensasi khusus. Kompensasi yang diminta berupa perbaikan jalan desa
sejauh dua kilometer. Bila tuntutan tersebut tidak juga dipenuhi, warga
mengancam akan menutup TPA tersebut.
“Selama
bertahun-tahun, kami terkena dampak negatif dari TPA tersebut. Setiap hari
warga harus mencium bau yang tidak sedap,” ujar Ketua BPD jomboran, Suyanto.
Selain
itu, imbuh Suyanto, warga juga terganggu dengan populasi lalat yang terus
meningkat. Bukan itu saja, beberapa warga juga sempat mengalami gangguan
pernafasan. Bahkan, air sungai yang biasa digunakan warga untuk mencuci dan
mandi juga ikut tercemar.
“Warga
merasa sangat dirugikan. Maka dari itu, warga di RW III, IV dan V sepakat
meminta kompensasi khusus berupa perbaikan jalan lingkungan sepanjang sekitar 2
km yang sudah rusak,” tambah Suyanto.
Lebih
lanjut Suyanto menjelaskan, pihaknya telah mengusulkan perbaikan jalan tersebut
pada Desember 2011 lalu. Akan tetapi, usulan yang diajukan ke DPU tersebut
belum mendapat tanggapan. Jika tak segera ditindaklanjuti, warga mengancam akan
menutup TPA Jomboran dengan paksa.
“Perbaikan
jalan tersebut sudah harga mati. Kalau tidak dipenuhi, warga akan menutup TPA
dengan paksa,” tegas Suyanto, Rabu (27/6).
Menanggapi
hal tersebut, Kepala Desa Jomboran, Agung Widodo menjelaskan, pihak desa sebenarnya sudah
mendapat kompensasi dari APBD Klaten senilai Rp 25 juta pertahun. Meski sudah
direalisasikan berupa proyek fisik, namun dana tersebut tidak cukup untuk
memperbaiki jalan di tiga RW.
“Dana
yang ada hanya Rp 25 juta, sedangkan dana yang dibutuhkan mencapai Rp280 juta.
Jelas tidak mencukupi kebutuhan,” papar Agung. (Sumanto)


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !