PADANG - INDEPNEWS.Com : Mercy Corps, sebuah lembaga nonpemerintah berencana meluncurkan kembali peta evakuasi tsunami yang kelak dilengkapi `shelter` setelah rampung direvisi. Peta yang dibuat pada 2010, mereka anggap sudah harus kembali di perbaharui dengan peta yang baru.
"Peta yang diluncurkan Mercy Corps pada 2010 akan direvisi terkait dengan hasil penelitian dan kajian ilmiah terbaru. Secara teknis, proses revisi tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan peneliti," kata Manager Readi Mercy Corps Sumbar, Supriyanto di Padang, Sumatra Barat (Sumbar), Kamis (4/7).
Hal diungkapkan di sela-sela acara Lokakarya Peta Evakuasi Tsunami yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan di provinsi itu untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin sebagai bahan revis.
Peta evakuasi tsunami pada 2010, tambah dia, sudah banyak yang mengkritik, khususnya terkait zona merahnya. Kritik itu bukan berarti akan mampu mengubah kawasan zona merah tsunami, kecuali berdasarkan hasil penelitian dan kajian ilmiah dari berbagai lembaga survei lainnya.
"Peta evakuasi tsunami terbaru, setelah dicetak akan dibagikan ke masyarakat di pesisir pantai Kota Padang," ujarnya.
Peta evakuasi tsunami terbaru masih dalam proses revisi, atau dalam tahap penyempurnaan yang diharapkan akan kelak mampu memitigasi kemungkinan terburuk dari dampak megathrust.
"Kita menargetkan semua masyarakat Kota Padang memiliki peta evakuasi tsunami terbaru. Namun Mercy Corps terbatas dengan anggaran. Rencananya, akan mengajak kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperbanyak jumlahnya," harapnya.
Ia menilai, bangunan bertingkat yang berdiri di sepanjang jalan utama Kota Padang, menjanjikan untuk dijadikan shelter evakuasi tsunami, tapi belum ada lembaga resmi yang berani untuk melakukan uji kelayakan terhadap bangunan bertingkat tersebut.
Menurut dia, hal ini perlu dikaji agar bangunan yang bakal dijadikan shelter evakuasi tidak menjadi kuburan massal jika gempa dan tsunami tiba. Supriyanto menganalisa ancaman megathrust Mentawai perlu diwaspadai semua pihak untuk lebih menyiapkan mitigasi menghadapi ancaman tersebut. Jika ancamannya terbesar megathrust Mentawai adalah tsunami, maka Pemerintah Kota Padang secara dini harus menyiapkannya.
"Saya melihat sudah banyak bangunan berlantai III di kawasan pantai Kota Padang, hal itu cukup potensial untuk dijadikan shelter," ujarnya.
Kendalanya sampai sekarang belum ada uji kelayakan terhadap bangunan tersebut, layak atau memenuhi standar untuk dijadikan lokasi evakuasi vertikal.
Workshop peta evakuasi tsunami yang digelar Mercy Corps selama sehari itu mengalami kebuntuan mendapatkan kelayakan gedung untuk dijadikan shelter permanen. Namun diyakini bakal akan ada pihak bersedia untuk berpartisipasi dalam mengidentifikasi dan menguji kelayakan dari beberapa gedung yang berpotensi dijadikan shelter.
Berdasarkan catatan Mercy Corps dari identifikasi BPBD Kota Padang dan Provinsi Sumatera Barat, sedikitnya ada 110 gedung yang berpotensi untuk dijadikan shelter.
Aktivis dari Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Khalid mengingatkan, meskipun ada banyak bangunan yang berpotensi dijadikan shelter, tapi jangan dimasukkan dulu ke dalam peta evakuasi.
Sebab, sebelum ada pihak yang bisa memberikan hasil uji kelayaknnya, dikhawatirkan ketika gedung yang diangkap layak tersebut dipublikasikan dalam peta, kenyataannya tidak siap dengan konstruksinya aman akan guncangan gempa.
"Kita perlu juga hati-hati dalam penetapan bangunan bertingkat dijadikan shelter, jika tak memenuhi standar kelayakan menurut para ahli tentu akan jadi kuburan massal. Lalu siapa yang akan bertanggung jawab terhadap jebakan evakuasi tersebut," ujarnya. (PN-O250)
"Peta yang diluncurkan Mercy Corps pada 2010 akan direvisi terkait dengan hasil penelitian dan kajian ilmiah terbaru. Secara teknis, proses revisi tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan peneliti," kata Manager Readi Mercy Corps Sumbar, Supriyanto di Padang, Sumatra Barat (Sumbar), Kamis (4/7).
Hal diungkapkan di sela-sela acara Lokakarya Peta Evakuasi Tsunami yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan di provinsi itu untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin sebagai bahan revis.
Peta evakuasi tsunami pada 2010, tambah dia, sudah banyak yang mengkritik, khususnya terkait zona merahnya. Kritik itu bukan berarti akan mampu mengubah kawasan zona merah tsunami, kecuali berdasarkan hasil penelitian dan kajian ilmiah dari berbagai lembaga survei lainnya.
"Peta evakuasi tsunami terbaru, setelah dicetak akan dibagikan ke masyarakat di pesisir pantai Kota Padang," ujarnya.
Peta evakuasi tsunami terbaru masih dalam proses revisi, atau dalam tahap penyempurnaan yang diharapkan akan kelak mampu memitigasi kemungkinan terburuk dari dampak megathrust.
"Kita menargetkan semua masyarakat Kota Padang memiliki peta evakuasi tsunami terbaru. Namun Mercy Corps terbatas dengan anggaran. Rencananya, akan mengajak kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperbanyak jumlahnya," harapnya.
Ia menilai, bangunan bertingkat yang berdiri di sepanjang jalan utama Kota Padang, menjanjikan untuk dijadikan shelter evakuasi tsunami, tapi belum ada lembaga resmi yang berani untuk melakukan uji kelayakan terhadap bangunan bertingkat tersebut.
Menurut dia, hal ini perlu dikaji agar bangunan yang bakal dijadikan shelter evakuasi tidak menjadi kuburan massal jika gempa dan tsunami tiba. Supriyanto menganalisa ancaman megathrust Mentawai perlu diwaspadai semua pihak untuk lebih menyiapkan mitigasi menghadapi ancaman tersebut. Jika ancamannya terbesar megathrust Mentawai adalah tsunami, maka Pemerintah Kota Padang secara dini harus menyiapkannya.
"Saya melihat sudah banyak bangunan berlantai III di kawasan pantai Kota Padang, hal itu cukup potensial untuk dijadikan shelter," ujarnya.
Kendalanya sampai sekarang belum ada uji kelayakan terhadap bangunan tersebut, layak atau memenuhi standar untuk dijadikan lokasi evakuasi vertikal.
Workshop peta evakuasi tsunami yang digelar Mercy Corps selama sehari itu mengalami kebuntuan mendapatkan kelayakan gedung untuk dijadikan shelter permanen. Namun diyakini bakal akan ada pihak bersedia untuk berpartisipasi dalam mengidentifikasi dan menguji kelayakan dari beberapa gedung yang berpotensi dijadikan shelter.
Berdasarkan catatan Mercy Corps dari identifikasi BPBD Kota Padang dan Provinsi Sumatera Barat, sedikitnya ada 110 gedung yang berpotensi untuk dijadikan shelter.
Aktivis dari Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Khalid mengingatkan, meskipun ada banyak bangunan yang berpotensi dijadikan shelter, tapi jangan dimasukkan dulu ke dalam peta evakuasi.
Sebab, sebelum ada pihak yang bisa memberikan hasil uji kelayaknnya, dikhawatirkan ketika gedung yang diangkap layak tersebut dipublikasikan dalam peta, kenyataannya tidak siap dengan konstruksinya aman akan guncangan gempa.
"Kita perlu juga hati-hati dalam penetapan bangunan bertingkat dijadikan shelter, jika tak memenuhi standar kelayakan menurut para ahli tentu akan jadi kuburan massal. Lalu siapa yang akan bertanggung jawab terhadap jebakan evakuasi tersebut," ujarnya. (PN-O250)


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !