![]() |
| Pabrik CPO (PN/o250) |
Demikian Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai DJBC Susiwijono Moegiarso dalam surat elektroniknya yang diterima media, Sabtu (6/7). Susiwijono mengutip data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) yang juga dicatat oleh DJBC.
Ekspor CPO pada Januari 2013, berdasarkan data tersebut, mencapai 2,05 juta ton. Volume ekspor tersebut terus turun pada Februari sebesar 14% menjadi 1,92 juta ton sedangkan pada Maret menjadi 1,7 juta ton atau turun lagi 11,4%. Angka Maret merupakan yang terendah sejak Oktober 2012.
"Pembeli CPO berpaling ke Malaysia karena Malaysia mengenakan 0% export tax untuk Januari dan Februari dalam rangka menurunkan inventory CPO-nya. Untuk Maret, April, Mei, export tax 4,5%," kata Susiwijono.
Pada periode tersebut, rata-rata BK yang dikenakan Indonesia mencapai 9,25%. Pada Januari dan Februari ketika Malaysia memberlakukan tarif nol, Indonesia memberlakukan tarif 7,5% dan 9%. Sedangkan pada periode setelahnya tarif mencapai 10,5% pada Maret-April, dan 9% pada Mei-Juni.
Susiwijono tidak menyebutkan perkiraan berapa besar permintaan CPO yang beralih ke Malaysia. Namun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekspor Januari-Mei lemak dan minyak hewan/nabati (sebagian besar merupakan data ekspor CPO), nilai ekspor 2013 turun 9,58% dibanding nilai 2012. Jika pada lima bulan pertama 2012 ekspor golongan barang tersebut mencapai US$ 8,81 miliar, maka pada 2013 tinggal US$7,97 miliar. (PN/o250)


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !