![]() |
| Terlihat situasi timbagan barang Banyudono Jalan Solo-Semarang [Foto : Joko Larsono] |
Salah satu anggota perhubungan Slamet Rebowo memaparkan timbangan barang yang ada di wilayah Banyudono ini hanya timbangan lintasan setelah timbangan dari Surabaya, Wonogiri dan kota lainnya wilayah dari arah timur.
"Saya hanya anggota biasa, tau saya hanya ngasih info sekilas saja, kalau soal pembayaran sudah diatur dalam perda yang disahkan oleh gubernur Jateng," ujarnya dengan singkat.
Dikatakan dia, dalam 24 jam ada sekitar 600-700 kendaraan menimbangkan barangnya.
"Kalau pas sepi paling sekitar 100-200 kendaraan saja," katanya.
Lebih lanjut dia mengatakan, akan tetapi, tidak sedikit kendaraan barang tersebut yang berhenti ditimbangan Banyudono ini.
"Ada juga yang langsung melintas saja, kalau ngga berhenti disini pasti nanti berhenti di timbangan Salatiga," kata Slamet.
Sementara itu, beberapa supir yang tidak mau namanya disebutkan mengatakan membawa barang cuman sedikit bayarnya tetap mahal, kadang berubah ubah.
"Ya, tawar menawar saat melakukan pembayaran sudah biasa. Ngga tau kok bigini caranya, ya memang kalau ingin lancar harus nuruti apa kata petugas. Sebenarnya kalau dibilang gerundel ya emang gerundel, masalahnya itu tadi, " katanya sopir truk dari Surabaya dengan tujuan Jakarta itu, (jko).


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !