![]() |
Muhammad Dalhar
Pegiat Lakpesdam NU Kota Solo
|
INDEPNEWS.Com : Malam itu penulis berkesempatan untuk mengikuti salah satu kegiatan
rutin Nahdlatul Ulama’ (NU) Kota Solo. Acara Lailatul Ijtima’ ini dilaksana- kan Senin malam pekan pertama setiap
bulan dan diikuti seluruh jama’ah nahdliyin.
Kegiatan rutin tersebut pun sedikit banyak menjadikan organisasi kultural ini
kembali bergeliat.
Rangkaian acara LailatulIjtima' di keluarga besar NU Kota Solo ini sangat sederhana. Acara pertama
biasanya dipandu oleh pengurus harian dan kemudian dilanjutkan dengan do’a
bersama. Do’a-do’a yang dilantunkan ditujukan khusus kepada para ahli kubur dan
kebaikan bangsa ini. Ya, memang NU
dan bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan. Hal ini terlihat dalam sejarah perjuangan
organisasi ini dalam pembentukan Republik pada awal kemerdekaan. Selesai do’a
acara dilanjutkan dengan penyampaian berbagai informasi, baik kegiatan yang
sudah dilakukan atau pun agenda yang akan dilaksanakan.
Selama mengikuti acara, yang saya rasakan, ternyata kehadiran
kegiatan rutin (baca: tradisi) sangat penting bagi sebuah organisasi, terlebih
adalah NU Kota Solo. Adanya kegiatan kultural akan tetap menyokong keberadaan
organisasi meski sedang tidak ada progam. Ibaratnya, sambil menyelam minum air,
melalui kegiatan kultural semacam ini justru yang akan menjadikan kinerja
organisasi berjalan. Entah suatu takdir atau apa apa namanya, keunikan di NU
adalah salah satunya jama’ah lebih tertarik mengikuti kegiatan kultural
daripada kegiatan formal organisasi, misalnya rapat atau seminar. Sepertinya
perlu digalakkan bahwa berorganisasi (jam’iyah)
juga termasuk ibadah, sebagaimana kegiatan kultural.
Meski NU mempunyai jama’ah yang sangat besar tersebar di seluruh
penjuru Tanah Air, namun Kota Solo kodisinya berbeda. Sebagai wilayah abangan yang hetrogan, jumlah jama’ah
nahdliyin di Solo tidak lebih banyak daripada jama’ah organisasi lainnya.
Padahal sebagai kota yang masih memegang kuat tradisi Jawa, sebenarnya NU dapat
diterima oleh masyarakat Kota Bengawan. Karena sejak awal pendiriannya oleh KH.
Hasyim Asy’ari, salah satu tujuannya untuk melindungi praktik dan pemikiran
keagamaan masyarakat Indonesia yang berbeda dengan praktik dan pemikiran
keagamaan muslim Timur Tengah, khususnya Arab Saudi yang puritanistik. Artinya,
NU sangat mengapresiasi budaya lokal.
Akan tetapi kondisinya sangatlah berbeda dari yang dibayangkan.
Justru dari kota yang dikenal santun ini, banyak tuduhan bid’ah (heterodoksi)
dan sesat dari praktik keagamaan yang dijalankan masyarakat muslim kultural
(baca: nahdliyin). Praktik-praktik keberagaman yang sudah lama
mengakar kuat seperti tahlil, yasinan, acara tujuh hari, dan sebagainya
dianggap bertentangan dengan ajaran Islam karena tidak pernah dicontohkan
Rasulullah SAW.
Entah karena Islam yang begitu mudah dipelajari atau karena salah
tafsir sehingga banyak orang yang langsung mengambil dasar dari al-Qur’an dan
hadits. Padahal diperlukan ilmu bantu lainnya untuk mengambil sebuah hukum.
Sebenarnya tinggal mengikuti (taklid)
dari salah satu empat madzhab sudah menjadi solusi tepat. Dalam kitab Qanun Asasi Li Jami’ati Nahdlatul Ulama’, KH Hasyim Asy’ari
memprihatinakan adanya gerakan keagamaan baru yang menyerukan pemberantasan
bid’ah dengan “kedok” kembali kepada al-Qur’an.
Harus diakui bahwa di zaman yang semakin berkembang ini, belajar hal
apapun, termasuk agama bukan persoalan yang sulit. Dengan internet, semua
permasalahan (agama) dapat terjawab dengan cepat dan tuntas. Akan tetapi,
permasalahannya tidak sesederhana itu. Akan tetapi dalam belajar agama (Islam)
tidaklah demikian. Diperlukan guru untuk membimbing seorang murid. Mungkin
karena pesatnya informasi sehingga menjadikan seseorang bisa belajar otodidak
dan merasa lebih mampu dari yang lain. Dengan kemampuan yang luas tetapi tanpa
dasar yang benar menjadikan mereka kebelinger.
Sangat disayangkan jika banyak generasi muda yang notabene-nya adalah generasi yang mempunyai pemikiran kritis justru
menjadi taklid buta dengan bacaan yang ada di internet dan satu referensi saja.
Kepungan Politik Praktis
Menjelang Pemilu 2014 ini banyak calon legislatif (Caleg) mulai
turun ke Turba untuk menggalang dukungan dari masyarakat. Tidak sedikit para
pimpinan organisasi didekati para caleg karena dianggap mempunyai umat yang
lumayan banyak, tak terkecuali dengan NU Kota Solo.
Sebagai organisasi besar, NU merupakan wadah potensial di mata caleg
untuk menggalang dukungan. Dengan iming-iming
akan memajukan kegiatan kultural dan akses lainnya, banyak caleg mengenalkan
dirinya kepada jama’ah. Tetapi yang harus diingat, NU adalah organisasi
keagamaan dan kemasyarakatan yang tidak terbiasa “memaksa” para jama’ahnya
untuk memilih sosok tertentu. Hal ini terbukti dari Pemilukada di beberapa
daerah. Tidak semua calon dari backround
NU selalu menang, meski mayoritas pemilih adalah nahdliyin.
Di tubuh NU sendiri terdapat tiga model politik yang dilaksanakan
NU, yaitu politik kenegaraan, politik kerakyatan, dan politik kekuasaan. Dan
jenis yang terakhir, politik kekuasaan (politik praktis) menempati kedudukan paling
rendah. Pertanyaannya, mengapa banyak tokoh NU yang berminat politik tersebut.
Padahal jenis politik ini banyak
menimbulkan perpecahan dalam tubuh organisasi? Entahlah…
Dua model politik NU itu –kerakyatan dan kenegaraan- merupakan
pengalaman paling ideal dalam sejarah NU. dengan dua politik itu menjadikan NU
sebagai organisasi keagamaan yang berorientasi pada kebaikan dan kepentingan
umum. Akan tetapi dalam perkembangannya, NU tidak mampu mempertahankan dua
model politik ini karena godaan politik kekuasaan, baik dari tokoh NU sendiri
maupun dari luar NU.
Puncaknya adalah Khittah 1926 di mana NU berorientasi pada jama’ah
dan jam’iyah. Dalam keputusan Khittah 1926 ini hanya mengatakan NU sebagai
organisasi harus netral, namun sebagai individu, pengurus NU dapat berpolitik
praktis. Dua fenomena yang menarik dan
mungkin dijadikan pijakan pengurus NU sekarang berpolitik praktis adalah
kesediaan Gus Dur menjadi Presiden RI 1999 dan pencalonan KH. Hasyim Muzadi
dalam Pemilu Presiden 2004. Melanjutkan dengan jalan politik kekuasaan atau
politik politik kerakyatan dan kenegaraan adalah sebuah pilihan. Wa allahu a’lam…
Solo, 14
September 2013


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !