![]() |
| Petani sedang memanen beras (Tribun) |
INDRAMAYU - INDEPNEWS.Com : Harga beras yang mahal dalam sebulan terakhir membuat warga di Kabupaten Cirebon dan Indramayu, Jawa Barat, yang merupakan daerah penghasil padi nasional, kesulitan mendapatkan beras kualitas layak dengan harga terjangkau.
Sebagian warga pun terpaksa mengonsumsi nasi aking, yakni nasi sisa yang dijemur hingga kering lalu dikukus kembali. Untuk menambah aroma, nasi aking ditaburi garam dan kelapa muda.
Tangisan Rizki Ramadhani, bocah berusia 8 tahun, membuat ibunya, Warni (35), warga Krangkeng, Kabupaten Indramayu, menghentikan suapannya, Kamis (26/2) kemarin.
Sang anak menolak suapan nasi yang telanjur masuk ke mulutnya. Nasi lembek bercampur potongan pindang asin dan orek tempe itu dia muntahkan kembali. Nasi berwarna kusam dan berbau kurang sedap tersebut mengurangi selera makan Rizki.
Namun, tak ada beras lagi yang mampu dibeli Warni hari itu. Rizki harus menelan nasi yang disediakan ibunya betapapun tidak enak rasanya.
Sang ibu tidak punya uang untuk membeli beras yang kini harganya selangit. Ayahnya yang seorang pengangon bebek juga belum mendapatkan upah atas kerjanya.
”Beras seperti ini saja saya beli Rp 10.500 per kilogram. Padahal, dulu hanya sekitar Rp 8.000 per kilogram. Pusing mikirin beras mahal. Kitae blih bisa ngliwet (Kami tak bisa menanak nasi),” ujar Warni yang sehari-hari menjadi buruh pembersih bawang merah. Ia diberi upah Rp 500 per kilogram dari pekerjaan itu. (Kompas/inc)
Sebagian warga pun terpaksa mengonsumsi nasi aking, yakni nasi sisa yang dijemur hingga kering lalu dikukus kembali. Untuk menambah aroma, nasi aking ditaburi garam dan kelapa muda.
Tangisan Rizki Ramadhani, bocah berusia 8 tahun, membuat ibunya, Warni (35), warga Krangkeng, Kabupaten Indramayu, menghentikan suapannya, Kamis (26/2) kemarin.
Sang anak menolak suapan nasi yang telanjur masuk ke mulutnya. Nasi lembek bercampur potongan pindang asin dan orek tempe itu dia muntahkan kembali. Nasi berwarna kusam dan berbau kurang sedap tersebut mengurangi selera makan Rizki.
Namun, tak ada beras lagi yang mampu dibeli Warni hari itu. Rizki harus menelan nasi yang disediakan ibunya betapapun tidak enak rasanya.
Sang ibu tidak punya uang untuk membeli beras yang kini harganya selangit. Ayahnya yang seorang pengangon bebek juga belum mendapatkan upah atas kerjanya.
”Beras seperti ini saja saya beli Rp 10.500 per kilogram. Padahal, dulu hanya sekitar Rp 8.000 per kilogram. Pusing mikirin beras mahal. Kitae blih bisa ngliwet (Kami tak bisa menanak nasi),” ujar Warni yang sehari-hari menjadi buruh pembersih bawang merah. Ia diberi upah Rp 500 per kilogram dari pekerjaan itu. (Kompas/inc)


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !