![]() |
Oleh R.
Anang Soetrisno, SE., MM.
(Ketua Lemabag
Swadaya Masyarakat Jangkar)
|
SURABAYA - INDEPNews ; Kita semua selalu dihantui dengan tidak membayangkan bias
hidup tanpa pajak. Seperti contoh saja kita memakai air bersih tentu dengan
membayar pajak penjualan (PPN), lalu kita memakai HP, SMS juga ada pajak yang
harus kita bayar, kita memakai kendaraan yang telah dipakai melintas jalanan
yang juga dibangun dari hasil pajak. Tiba di kantorpun setiap bulan memangkas
gaji kita untuk membayar pajak penghasilan (PPH), kita santai ke rumah makan/hiburan
bayar + pajak-pajaknya, lantas kita pulang ke rumah yang secara rutin setiap
tahun juga dikenai pajak bumi dan bangunan (PBB). Mungkin juga kita mempunyai
deposito di Bank, itupun dikenai pajak deposito dan lain sebagaainya.
Semuanya kegiatan hidup kita dipajaki, pada masa
kolonial, rakyat dikenai pajak baik lewat setoran hasil bumi maupun dalam
bentuk uang. Karena Indonesia dinaggap tanah upeti Hindia Belanda telah
menyetor 832,40 Juta Golden ke Belanda digunakan untuk membayar hutang, membangun
benteng dan membiayai ragam kemewahan Negeri bunga tulip tersebut. Dengan
pajak, masyarakat rela membayar, karena kita tahu ada banyak sektor kehidupan
publik yang mesti dijalankan, dirawat dan itu semua membutuhkan biaya. Bila
pajak digunakan secara benar untuk belanja barang dan jasa, pertumbuhan ekonomi
akan tercipta kita sebut kesejahteraan ini.
Filosofi pajak adalah filosofi keadilan bagian dari
filsafat politik penguasa sekarang muncul adegan yang mewujudkan konstitas
ideologi antara rakyat termasuk didalamnya Parlemen dan Negara. Kita semua
terkejut muncul kasus Gayus Tambunan, Bahasyim Assyifi dan lain-lain yang
menyeret semua pejabat hukum kita baik di Kejaksaan, Kehakiman dan Mabes Polri
yang semuanya merupakan pilar-pilar utama penyelenggara kehidupan bernegara
kita.
Dari semua kasus ini, terbuka mata kita betapa sudah
bobroknya mental pejabat kita juga menunjukkan wajah kemanusia kita yang kian
bopeng. Ada lika yang dalam dan menganga ketika rakyat dihianati. Kita kini
akhirnya sadar ternyata pajak adalah sumber dari rapuhnya kemanusiaan. Kita
membayari anggota parlemen untuk setiap saat membikin dagelan politik atas nama
rakyat, kita membayari penguasa dan jajarannya hanya untuk bermain citra dan
menebalkan pupur di wajah mereka.
Kita membayar pajak untuk menyicil hutang Negara yang
segudang filsafat perpajakan telah menjadi filsafat keculasan, karena
kenyataannya rakyat hanya dijadikan sapi perah untuk membayari penguasa yang
tidak bisa memegang amanah. Ancaman delegitimasi atas institusi perpajakan
tidak bisa dibiarkan menggerogoti kridibilitas, bahkan legitimasi Dirjen Pajak.
Contoh muncul facebookers yang menggalang dukungan untuk mengancam menolak
membayar pajak.
Di Indonesia, kontribusi pajak pada APBN pada tahun 2009
menyumbang sekitar 71% dari APBN, pada tahun 2010 penerimaan pajak ditargetkan
memberikan pemasukan 777 trilliun (660 trilliun dihimpun dirjen pajak). Namun
yang lebih penting dari sekedar target nominal, yakni kepercayaan publik kepada
penyelenggara Negara. Presiden SBY perlu proaktif untuk menuntaskan kemelut
perpajakan, minimal meredam menurunnya kepercayaan publik kepada institusi
perpajakan. Perlu langkah kongkrit dari Pemerintah untuk meminimalkan
penyimpangan-penyimpangan dengan semua yang terkait, baik Mentri Keuangan
dengan lembaga-lembaga BPK, BPKP dan
PPATK dalam reformasi jajarannya. Negara harus terus berjalan dan
penyelenggara Negara harus jujur dan transparan dalam kinerjanya dengan lebih
meningkatkan kualitas pelayanan publik.


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !