![]() |
| Komisi I DPRD Sukoharjo Saat Sidak Hama Wereng di Mojolaban |
SUKOHARJO - INDEPNews ; Harapan
petani untuk menikmati hasil pada musim tanam kemarau, ternyata tinggal harapan
saja. Alih-alih menikmati panen, petani di Sukoharjo harus menanggung rugi
jutaan rupiah, akibat serangan hama
wereng dan tikus.
Kondisi seperti itu, paling tidak dirasakan petani di empat kecamatan yaitu Polokarto, Mojolaban, Bendosari dan Sukoharjo. Sekitar 2.000 hektar tanaman padi terserang hama wereng coklat dan tikus. Serangan hama wereng berada di Mojolaban dan Polokarto mengakibatkan sekitar 1.500 hektar padi terancam puso. Sementara hama tikus menyerang kecamatan Sukoharjo dan Mojolaban.
Kondisi seperti itu, paling tidak dirasakan petani di empat kecamatan yaitu Polokarto, Mojolaban, Bendosari dan Sukoharjo. Sekitar 2.000 hektar tanaman padi terserang hama wereng coklat dan tikus. Serangan hama wereng berada di Mojolaban dan Polokarto mengakibatkan sekitar 1.500 hektar padi terancam puso. Sementara hama tikus menyerang kecamatan Sukoharjo dan Mojolaban.
![]() |
Petani
Terpaksa Memanen Lebih Awal
Untuk
Menghindari Kerugian Lebih Banyak
|
Lurah Desa Mandan Sri Handayani kepada Independent News Online membenarkan, dampak serangan hama tikus mengancam gagal panen. Sebagai antisipasi, petani dan aparat Kelurahan Mandan dan Dinas Pertanian secara periodik melakukan gropyokan tikus. Hasilnya, serangan tikus dapat terkendali meski petani masih diliputi kecemasan, paparnya.
Terpisah, Ketua Paguyuban Petani Pengguna Air (P3A) Dam Colo Timur, Sarjanto, Kamis (14/6) mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan untuk membasmi wereng. Mulai dari menyemprot padi dengan obat-obatan hingga pembasmi hama. Namun upaya tersebut tidak dapat menghentikan serangan wereng, setelah diberi racun hama wereng malah makin nekat.
“Kita sudah berupaya memberikan pupuk, obat, dan pembasmi hama tapi tidak juga mempan. Wereng datang terus dari tempat lain. Kalau dilihat di batang padi itu, ada ratusan wereng yang menempel pada rumpun padi,” ujarnya.
Berulang kali, petani dan kelompok tani melaporkan serangan hama ke Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo. Sayangnya, hingga kini belum ada upaya maksimal dari Dinas Pertanian untuk membasmi wereng yang menyerang areal pertanian di Kecamatan Polokarto dan Mojolaban ini.
Agar tidak menanggung rugi lebih banyak, para petani memilih memanen lebih awal meski hasilnya jauh sangat berkurang. Sebab, kalau tidak dipanen lebih awal bulir padi akan mati bersama batangnya. Sebab, terlambat memanen sepekan hanya batang dan padi sudah mongering, paparnya.
Seperti pengakuan salah seorang petani, pada musim tanam II bulan April-Juni telah mengeluarkan biaya banyak untuk biaya traktor dan tanam. Bahkan, pada Musim Tanam II ini, harus kehilangan dua ekor kambing tapi uangnya tidak kembali, akibat serangan wereng, keluh Sahid petani di Mojolaban.
Lain lagi pegakuan petani di Polokarto, Supri, untuk tanam arus jual perhiasan istri. Tak tahunya, ketika akan panen malah gagal akibat serangan hama wereng dan tikus. Seharusnya, dua pekan sudah panen tapi malah gabuk, keluhnya. (Sutarmin DS, SH)



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !